Three in One di Kota Ancam Turunkan Omset Pengusaha

Three in One di Kota Ancam Turunkan Omset Pengusaha

- detikFinance
Kamis, 15 Jul 2004 12:38 WIB
Jakarta - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mendesak Pemda DKI Jakarta untuk meninjau ulang kebijakan three in one di kawasan Kota, tepatnya di sepanjang jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Alasannya, penerapan kebijakan itu mengancam penurunan omset pengusaha antara 30-50 persen.Namun Aprindo menilai sejauh ini Pemda DKI belum menanggapi secara serius permintaan tersebut. Padahal, berdasarkan survei yang dilakukan Aprindo, penerapan three in one pada sore hari mengancam penurunan omset toko-toko di kawasan tersebut antara 30-50 persen.Hal tersebut dikemukakan Handaka di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional (rakornas) bidang Organisasi Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) 2004 di Hotel Hilton, Jakarta, Kamis (15/7/2004).Namun, masih menurut Handaka, Pemda DKI Jakarta menilai survei yang dilakukan Aprindo terhadap toko-toko di kawasan Kota tidak representatif dan sangat dangkal. Padahal menurutnya, tim survei Aprindo mendatangi satu per satu toko tersebut untuk mengumpulkan informasi."Karena itu kita minta Pemda DKI lebih bijaksana. Sebelumnya, mereka menjanjikan akan mengkaji ulang dalam waktu 6 bulan sejak diterapkannya peraturan tersebut. Tapi kita pikir kenapa harus tunggu sampai 6 bulan?" tanya Handaka.Oleh karena itu, saat ini Aprindo masih menunggu implementasi dari Pemda DKI. Alasan permintaan Aprindo, lanjut Handaka, karena para pengusaha yang memiliki toko di kedua jalan tersebut termasuk pengusaha kecil, sehingga ketentuan tersebut dikhawatirkan akan memukul kegiatan bisnis mereka."Aprindo tidak menolak adanya busway, tapi perlu dipikirkan lagi apakah penerapan three in one terkait busway sudah tepat atau belum," tandasnya seraya mengatakan para pengusaha tidak meminta subsidi, hanya meminta ketentuan three in one ditinjau ulang.Pertumbuhan RitelSementara itu, mengenai target pertumbuhan ritel untuk anggota Aprindo pada tahun 2004, diharapkan bisa mencapai 10 persen atau mencapai Rp 30 triliun dari target pertumbuhan ritel nasional yang sebesar Rp 300 triliun. Dari target tersebut, diproyeksikan pada 6 bulan pertama tahun 2004 sudah mencapai 8 persen atau sebesar Rp 24 triliun."Jadi itu sudah mendekati target kita. Untuk enam bulan kedua, karena ada Lebaran, kita optimis bisa melebihi target, tapi dengan catatan pemilihan presiden putaran kedua berjalan aman," sambung Handaka.Ditambahkan, Aprindo optimis sektor ritel akan terus tumbuh mengingat saat ini investasi yang diharapkan belum banyak masuk, sehingga pertumbuhan ekonomi masih lebih banyak ditopang oleh sektor konsumsi.Untuk tahun 2005, ia memprediksi pencapaiannya bisa lebih dari dari tahun ini. Namun mengenai hitung-hitungannya baru disampaikan pada September mendatang. Peningkatan bisnis ritel di tahun 2005, lanjut Handaka, bisa terjadi karena adanya peningkatan produksi. Selain itu, ia juga berharap komitmen yang tinggi dari pemerintahan yang baru nanti. (ani/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads