Singapura Hadapi Perlambatan Ekonomi

Singapura Hadapi Perlambatan Ekonomi

- detikFinance
Senin, 21 Nov 2011 10:34 WIB
Singapura - Singapura menghadapi perlambatan ekonomi, dengan tingkat pertumbuhan diperkirakan hanya di kisaran 1-3 persen pada tahun 2012. Angka itu tentu saja jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi semula yang sebesar 5% untuk pertumbuhan tahun 2012.

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura menyatakan, perlambatan ekonomi itu terutama berkaitan dengan melambatnya ekspor. Diingatkan pula situasi bisa lebih buruk lagi.

"Ini tidak memasukkan faktor risiko pelemahan terhadap pertumbuhan, selayaknya situasi utang memburuk atau krisis finansial di negara-negara maju meledak," jelas Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI) dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP, Senin (21/11/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seandainya risiko-risiko ini menjadi material, pertumbuhan ekonomi Singapura pada tahun 2012 bisa lebih rendah dari ekspektasi," tambahnya.

MTI memperkirakan industri elektronik Singapura dan sektor lain yang sangat bergantung pada permintaan luar negeri akan tetap mendapatkan tekanan, meski ada dukungan dari perekonomian Asia yang kinerjanya lebih baik.

"Meski permintaan domestik di emerging Asia masih tanggu dan akan memberikan dukungan untuk permintaan global, namun ini tidak akan cukup memitigasi dampak pelemahanan ekonomi di negara-negara maju," jelas MTI.

Bahkan sektor finansial diperkirakan terkena pengaruh oleh ketidakpastian lingkungan eksternal yang semakin memburuk.

Perekonomian Singapura bernilai SG$ 284,6 miliar (US$ 219 miliar) pada tahun 2010, tumbuh 14,5% dibandingkan resesi yang dialami negara tersebut pada tahun 2009 ketika perekonomian menyusut 0,8%.

Proyeksi tahun 2012 itu dirilis setelah data menunjukkan perekonomian Singapura tumbuh 6,1% pada kuartal III-2011, yang merupakan perbaikan jika dibandingkan pertumbuhan 1% pada kuartal II-2011.

Singapura merupakan produsen bagian-bagian alat telekomunikasi dan komputer yang dikirim ke berbagai belahan dunia, termasuk juga produk petrokimia dan farmasi.
(qom/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads