Demikian diungkapkan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Djamal dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Kamis (1/12/2012).
"Saya melihat impor Malaysia naik cukup signifikan pada bulan Oktober ini. Setelah saya lihat ternyata karena adanya operator komputer yang tidak bisa saya sebutkan namanya, impor digital automatic data," ujarnya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada Juli nilai impornya US$ 72 juta, Agustus US$ 65 juta, September US$ 55 juta, terus turun, tapi tiba-tiba Oktober US$ 138 juta. Setelah usut-usut ternyata karena impor tersebut," ujarnya.
Menurut Djamal, speksifikasi barang impor tersebut diperkirakan merupakan barang yang tidak bisa diproduksi dalam negeri.
"Ya pastinya, karena barang-barang ini tidak bisa diproduksi di sini (Indonesia)," pungkasnya.
Sementara total nilai impor di Oktober 2011 mencapai US$ 15,65 miliar atau naik 29,14% dibanding periode yang sama tahun lalu. Total impor dari Januari hingga Oktober 2011 mencapai US$ 145,68 miliar atau naik 33,03% dibandingkan tahun lalu.
Impor terbesar Indonesia berasal dari China dengan nilai US$ 20,71 miliar, Jepang US$ 15,6 miliar, Singapura US$ 8,86 miliar, ASEAN US$ 24,96 miliar, dan Uni Eropa US$ 10,01 miliar untuk periode Januari hingga Oktober 2011.
(nia/qom)











































