Agar atap KRL bebas penumpang, Dahlan meminta PT Kereta Api Indonesia (KAI) menambah dua gerbong baru pada setiap kereta yang selama ini beroperasi.
"Sebetulnya ada pemikiran begini, perbanyak kereta. Atau pilihan lain, nambah gerbong. Karena saya hitung, kalau yang di atas (gerbong) dikumpulin, bisa dimasukkan dalam satu gerbong. Itu cukup. Tapi akan ditambahin dua gerbong," kata Dahlan di kantornya, Jalan Mendan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (5/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya naik Bogor-Manggarai, terharu. Padatnya luar biasa hingga tidak perlu pegangan saja bisa," ujarnya.
Penambahan gerbong berlaku untuk seluruh KRL. Namun jangka pendek, Dahlan ingin memfokuskan pada KRL jurusan Bogor-Manggarai.
"Kalau bisa KAI yang Bogor-Manggarai, agar lebih fokus," tegasnya.
"TIap tiga minggu ada ada 18 gerbong baru. Dan akan ada perubahan drastis. Kalau tidak ingin berubah, tidak akan baik," tambah Dahlan.
Dahlan Tak Mau Tambah Jadwal KRL
Meski meminta tambahan gerbong, Dahlan mengaku tak ingin PTKA menambah jadwal KRL ekonomi tersebut. Pasalnya, semakin banyak kereta lewat, maka akan menggangu kelancaran jalan raya.
"Kalau pada jam-jam itu (berangkat dan pulang kantor), hampir tiap lima menit ada kereta. Pilihan untuk perbanyak kereta, nanti bisa tiga menit. Nanti palangannya enggak pernah buka dan lalu lintas mobil kurang," kata Dahlan.
Penambahan KRL belum menjadi opsi utama, karena harus dikomunikasikan dahulu dengan Kementerian Perhubungan atau instansi pemerintah lainnya. Meski demikian, PTKA siap jika unit KRL ditambah.
"Kalau menjadi tiga menit kita siap. Menurut UU, memang yang diutamakan kereta kan. Nanti akan kacaukan jalan raya," tambahnya.
Seperti diketahui sebelumnya, Dahlan menjajal KRL Ekonomi dari Stasiun Depok Baru. Dahlan sengaja tidak menggunakan pengawalan saat naik KRL yang biasanya padat penumpang itu.
"Saya dapat informasi Pak Dahlan naik KRL Ekonomi dari Stasiun Depok Baru pada pukul 08.10 WIB," kata Kahumas PT KAI Daops I Mateta Rizalulhaq kepada detikFinance.
Mateta mengatakan, Dahlan membeli tiket seperti penumpang biasa. Dahlan kemudian menaiki KRL Ekonomi tanpa dikawal petugas keamanan.
(wep/ang)










































