Demikian laporan dari riset Asian Development Bank (ADB) Asian Economic Monitor yang dikutip detikFinance, Selasa (6/12/2011).
Dalam laporan itu, jika tahun depan krisis di Eropa dan AS semakin memuncak, maka imbasnya akan sangat serius terhadap pertumbuhan negara-negara di regional. Namun, pengaruhnya masih bisa ditanggulangi jika pemerintah masing-masing negara di Asia bergerak cepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan tersebut juga mengkaji perekonomian di 10 negara ASEAN, yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, and Vietnam dan juga Republik Rakyat Cina, Hong Kong, Republik Korea, dan Taiwan.
ADB menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi di regional tahun 2012 menjadi 7,2% dari sebelumnya 7,5% di bulan September ketika meluncurkan Asian Development Outlook 2011 Update. Pertumbuhan tahun ini diperkirakan masih 7,5 %.
Dalam skenario terburuk, jika uni Eropa dan AS terkena krisis seperti di 2009 lalu, kawasan Asia Timur masih akan tumbuh, tapi hanya 5,4% di 2012. Angka tersebut lebih rendah 1,8 % dibandingkan perkiraan saat ini.
Dampaknya diperkirakan tidak akan separah di 2008 lalu. Karena adanya diversifikasi pasar ekspor kawasan Asia Timur dan meningkatnya permintaan dalam negeri sebagai sumber pendorong pertumbuhan.
Meskipun demikian, sistem keuangan regional tetap rentan seperti pada waktu 2008. Laporan ini mencatat, para investor makin menghindari risiko sehingga akan mengurangi kepemilikan atas aset-aset finansial di Asia. Sedangkan bank-bank di Eropa yang sudah memiliki banyak hutang, akan mengurangi pinjaman sehingga memperketat kondisi kredit.
Untuk mengatasi kemungkinan terjadinya krisis global yang berkepanjangan dan pemulihan yang lambat setelah krisis, para pembuat kebijakan di Asia bisa menggunakan perangkat finansial, moneter, dan fiskal yang tersedia.
Termasuk mekanisme yang sudah ada untuk melindungi stabilitas finansial dan menjamin tersedianya kredit secara mencukupi di kawasan regional. Kebijakan moneter harus tetap fleksibel, sementara koordinasi nilai tukar akan menghindari terjadinya kompetisi untuk melakukan devaluasi.
Kawasan ini masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk memberikan stimulus secara bertahap dan hati-hati jika diperlukan dan pada saat yang sama menghindari tekanan yang terlalu besar terhadap anggaran.
Laporan ini memperkirakan perekonomian di kawasan Eropa hanya tumbuh 0,5% tahun depan dan perekonomian AS tumbuh 2,1%. Di 2011, ADB masih memperkirakan masing-masing perekonomian tersebut akan tumbuh sebesar 1,7% dan 1,6%.
Pertumbuhan ekonomi di RRC kemungkinan akan sedang-sedang saja meskipun permintaan dalam negeri terus meningkat. Laporan ini memperkirakan perekonomian RRC akan tumbuh sebesar 8,8% di 2012 setelah tumbuh sebesar 9,3% pada tahun ini.
Pertumbuhan ekonomi di kawasan industri baru Hong Kong, Republik Korea, Singapura dan Taiwan akan melambat tahun ini dan tahun depan, sebagian besar dikarenakan mereka lebih tergantung pada perdagangan internasional daripada negara-negara tetangga mereka. Hal ini membuat kawasan industri baru tersebut sangat rentan terhadap kontraksi ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat Serikat.
Pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN juga akan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Thailand yang mengalami masalah besar karena banjir baru-baru ini akan pulih dari gangguan pasokan tahun depan. ADB sekarang memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Thailand akan turun menjadi 2% tahun ini, tetapi ADB tetap mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 4,5% tahun depan.
ADB masih memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh 6,6% tahun ini tetapi ADB menurunkan perkiraaannya untuk Indonesia untuk tahun 2012 menjadi 6,5% dari perkiraan sebelumnya sebesar 6,8%. Jika kawasan euro dan Amerika Serikat mengalami resesi yang mendalam, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan turun 1% menjadi 5,5%.
Perekonomian Jepang diperkirakan akan pulih dari dampak bencana alam yang terjadi baru-baru ini seiring dengan dibangunnya kembali suplai pasokan tetapi menguatnya yen kemungkinan akan merugikan ekspor sedangkan konsumsi dalam negeri tetap lemah. Dengan demikian, ADB tetap memperkirakan perekonomian Jepang akan berkonstraksi sebesar 0,5% tahun ini dan akan tumbuh 2,5% tahun depan.
(ang/hen)










































