Bisnis Ritel Non Pangan Lesu

Bisnis Ritel Non Pangan Lesu

- detikFinance
Rabu, 07 Des 2011 14:05 WIB
Bisnis Ritel Non Pangan Lesu
Jakarta - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mencatat terjadi penurunan omset penjualan ritel sektor non pangan seperti dept. store pada periode triwulan IV-2011. Penyebabnya diduga menurunnya daya beli masyarakat pasca Hari Raya Lebaran lalu.

"Kita harapkan akhir tahun ini bisa menutup bulan sebelumnya, pasca Lebaran sektor ritel non pangan memang terjadi penurunan dibandingkan bulan yang sama tahun lalu sampai 10% turunnya," kata Ketua Harian Aprindo Tutum Rahanta kepada detikFinance, Rabu (7/12/2011).

Ia mengatakan penurunan terjadi khususnya pada produk ritel non pangan untuk kebutuhan sandang seperti pakaian dan lain-lain. Tutum mengakui permintaan masyarakat terhadap produk ini cenderung menurun hingga nanti akan ada sedikit perbaikan di penghujung tahun dan tahun baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masalahnya soal daya beli, tapi ini lebih analisa pribadi saya. Bagi masyarakat bawah belanja kebutuhan sehari-hari menjadi kebutuhan yang mendesak, selain makan, kedua transportasi, jadi uang habis karena transportasi yang jelek," katanya.

Meski mengalami penurunan, ia optimistis total pertumbuhan sektor ritel anggota Aprindo mencakup pangan dan non pangan bisa menembus Rp 120 triliun atau tumbuh 15%.

"Tahun depan kalau melihat dari pertumbuhan makro ekonomi tahun depan, ritel masih bisa tumbuh 10-15% tahun depan. Kalau tidak mencapai itu, nggak akan bisa survive," katanya.

Keluhan pelaku ritel pangan ini nampaknya sejalan dengan hasil survei Bank Indonesia (BI). BI mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di November 2011 turun 1,9 poin menjadi 114,3 akibat berkurangnya pembelian barang-barang tahun lama, dan besaran penghasilan yang diterima oleh responden.

Khusus pada ekspektasi penghasilan enam bulan mendatang, juga ikut menekan keyakinan konsumen atas kondisi ekonomi di November lalu. Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) turun 2,3 poin menjadi 104,4.

Ini disebabkan oleh melemahnya kenaikan penghasilan yang diikuti dengan penurunan pembelian barang-barang tahan lama, dengan kelompok responden berpengeluaran Rp 3-5 juta.
(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads