"Bayangkan kalau keluarga kita, istri kita, anak-anak kita, kita kasih harta dari hasil korupsi yang tidak halal ini, maka secara genetik kita juga sedang mencetak calon-calon koruptor di masa yang akan datang. Anak-anak kita sendiri. Tapi cara melihatnya, orang tua kita menjadi panutan. Jadi, inilah saatnya. Jangan kita berbuat korupsi," katanya di Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (8/12/2011).
Ia juga mengatakan aparat Bea Cukai ibarat ikan dalam akuarium. Meski berusaha untuk menutupi kesalahan, masyarakat tetap akan melihat kesalahan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agung menyatakan meskipun tidak terlihat masyarakat, tetapi aparat Bea Cukai perlu menjaga diri agar tidak melakukan tindakan yang merugikan seperti korupsi. Hal ini disebabkan adanya kewajiban kepada masyarakat yang perlu dipertanggungjawabkan.
"Meskipun orang itu tidak tahu, tapi ada Yang Maha Tahu. Yang pasti tahu dan itu akan menjadi pertanggungjawaban kita kelak di dunia lain. Tugas kita di BC tidak akan pernah berubah, selama ada anak miskin belum memakai seragam SD dengan tersenyum lebar. Kita akan diminta pertanggungjawaban," ujarnya.
(nia/hen)










































