Secara pribadi Chairul mengaku kesal dengan pola birokrasi yang selama ini terjadi. Sebagai pelaku swasta ia tak habis pikir dengan birokrasi yang sudah keterlaluan.
"Saya orang luar birokrasi masuk birokrasi, rasanya ngurut dadanya," katanya di acara diskusi KEN di gedung Mega, Jakarta, Minggu malam (18/12/2011)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Korupsi, birokrasi dan ini masalah yang disampaikan di WEF," katanya.
Chairul mengaku sebagai wakil ketua harian komite Masterplan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) ia harus sering berurusan dengan birokrat. Ia pun terpaksa memimpin rapat para birokrat dengan gaya memimpin perusaahaan swasta.
"Rekomendasi, eselon 1 sampai 3 tidak otomatis pegawai negeri, harusnya diberikan kesempatan kepada yang lain (swasta)
Diharapkan bisa ada daya saing, yang tak produktif, yang tak bisa bersaing jangan harapkan naik pangkat," tegasnya.
Menurutnya usulan ini bisa menjadi salah satu contoh konkret yang bisa dilakukan pemerintah untuk membenahi birokrasi. Ia beranggapan reformasi birokrasi yang berbasis pada kenaikan gaji PNS signifikan tak menjamin akan mampu membenahi masalah birokrasi di Indonesia.
"Naikin gaji berapa pun nggak ada gunanya, yang diperlukan menteri yang berani mecat anak buahnya kalau salah," katanya.
Ia menuturkan salah satu masalah konkret birokrasi adalah soal realisasi penyerapan anggaran. Dikatakannya per 7 Desember 2011 pencairan belanja modal baru mencapai 51%.
Jika ini terus dibiarkan maka target pertumbuhan ekonomi tahun 2012 diatas 6% bisa terganggu. Sesuai rekomendasi KEN, pertumbuhan ekonomi 2012 memang dipatok 6,3-6,7% alasannya tahun depan merupakan tahun ketidakpastian karena dampak krisis Eropa dan AS.
"Kalau pemerintah dibelanja modal bisa bagus bisa sampai 6,7%. Tapi kalau biasa-biasa saja penyerapannya, bisa hanya 6,3% atau di bawah itu," katanya.
(hen/ang)











































