Wasita karya yang sebelumnya memiliki saham di Istaka Karya, akan mengambil alih utang tersebut dan membayarnya kepada 117 kreditur.
"Dengan bertindak sebagai kreditur yang akan melunasi 117 kreditur konkuren, saham Waskita menjadi 51%, dan dikarenakan sebelum pailit ada modal baru yang diberikan Waskita sebesar 70 miliar, saham Waskita diperkirakan akan mencapai sekitar 66%," kata Direktur Utama Istaka Kasman Muhammad, di Kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (20/12/11).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama kreditur Separatis yang terdiri dari perbankan mulai dari Bank Permata, Bukopin, Bank Jabar dan BDS, dengan total Rp 301,72 miliar. Kedua Kreditur Preference yakni pajak negara dan sebagainya dengan total Rp 85,51 miliar.
Ketiga kredit konkuren yang terdiri dari para pekerja, mandor dan pemegang saham lainnya dengan total mencapai Rp 478,78 miliar sehingga total utang yang harus diselesaikan mencapai Rp 866,01 miliar.
"Mekanisme pembayaran piutang nantinya, kreditur yang memiliki piutang Rp 250 juta ke bawah akan dibayar 20% dan 80% sisanya baru akan diangsur selama tiga tahun, sedangkan kreditur yang memiliki piutang diatas Rp 250 juta didiskon 20%, dan dibayar 16% dahulu lalu sisanya 64% dikonversikan menjadi saham," terang Kasman.
Sementara utang dari JAIC (PT Japan Asia Investment Company Indonesia) sebesar Rp 46,68 miliar akan didiskon 84% dan sisanya 16% akan dibayar setelah tiga bulan setelah perdamaian.
"Nantinya kreditur yang piutangnya diatas Rp 250 juta atau sebanyak 117 kreditur konversi sahamnya akan mencapai Rp 246,77 miliar atau saat ini setara 49% saham," tandas Kasman.
(ang/ang)











































