Namun Suwhono menegaskan bukan berarti perusahaan yang dipimpinnya hanya ditujukan untuk kaum marginal atau masyarakat yang kepepet.
"Kita benar-benar berikan solusi untuk gol menengah ke bawah. Pegadaian itu ada pinjaman Rp 50 ribu, rata pinjaman Rp 4 juta jadi benar untuk masyarakat kelas bawah, tetapi bukan memberikan 4 juta untuk orang termarginalkan," ujarnya usai acara "Program Gerobak Modern Peduli Tukang Sayur" di kantornya, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (27/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nasabah Pegadaian sering kami katakan sangat banggakan karena visi mereka yang luar biasa, biasanya mereka pinjam uang untuk anak sekolah, itu karena dia memikirkan lebih jauh masa depan anak dan kehidupannya. Ada juga yang untuk pengembangan usaha, beliau menciptakan lapangan kerja minimal untuk dia sendiri dan masyarakat sekitarnya. Nasabah Pegadaian, pahlawan bangsa, pengisi kehidupan," tegasnya.
Dengan demikian, Suwhono enggan jika nasabahnya disebut sebagai kaum marginal yang kepepet menggadaikan barang-barangnya untuk membiayai hidupnya.
"Mereka tahu bagaimana mengembangkan untuk memaksimalkan masa depan, jadi bukan kepepet sehingga ada kesan nasabah Pegadaian malu kanan kiri itu sama tetangga karena mau ke Pegadaian. Nggak ada istilahnya Pegadaian untuk orang kepepet atau memalukan tapi ini orang-orang punya visi meningkatkan kesejahteraannya sendiri," pungkasnya.
(nia/hen)










































