"Ngga ada larangan. Kirim kemanapun, dan informasi terakhir 20 kontainer sudah ada di Pelabuhan," kata Ketua Asosiasi Perbenihan Bawang Indonesia, Agusman Kastojo di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (24/1/2012).
Dikatakan Agusman, 20 kontainer ini setara dengan 54 ton bawang merah impor. Bawang ini adalah bawang konsumsi, yang bisa langsung dijajakan kepada masyarakat. Dengan membanjirnya bawang di pasar, maka timbul kekhawatiran bahwa harga akan anjlok. Kondisi terakhir pun, harga bawang merah konsumsi telah turun ke level Rp 2.000 per kg (tingkat petani), atau Rp 4.000 per kg (tingkat konsumen).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini ditambah kembali dengan kondisi di lapangan, bahwa harga bawang India hanya US$ 250 per ton. Kenapa bisa sangat murah? Ternyata pemerintah India melakukan subsidi ekspor kepada pelaku industri bawang sebesar US$ 2.000 per kontainer.
Membanjirnya bawang impor inilah yang mendapat protes keras petani bawang merah lokal. Ikhwan, salah satu petani bawang asal Brebes mengaku geram kepada importir yang tidak memiliki hati nurani.
Pasalnya, mereka tetap saja melakukan impor padahal suplai di pasaran sudah banyak. Petani pun akhhirnya mendapat kerugian berlipat.
"Mereka tetap saja impor. Pengepul itu, mau harga naik atau turun tetap saja untung. Beda dengan kita, yang terus rugi," tambah Ikhwan.
Namun, Agusman yang juga bertindak sebagai importir bawang konsumsi berkilah. Beberapa anggotanya tetap melakukan impor bawang, namun tidak merugikan petani.
Impor dilakukan saat suplai dalam negeri menipis. Bisnis impor bawangnya murni untuk menyeimbangkan permintaan dan penawaran bawang dalam negeri. Karena jika stok berkurang, dikhawatirkan harga bawang bakal melambung tinggi.
"Memang ada importir nakal. Sehingga perlu ada pengaturan. Saat bulan dua (Februari) hingga bulan lima (Mei) boleh impor. Sedangkan bulan enam hingga satu (Januari), jangan boleh impor karena sedang on season (puncak panen)," kata Agusman.
(wep/dru)











































