Seperti yang terjadi di kota kecil di utara Jepang, Sendai, Kamis (2/2/2012), dalam pandangan detikFinance, puing-puing dan rumah-rumah yang hancur masih dalam keadaan pasca terjadi tsunami. Waktu itu, kota kecil berudara cukup dingin itu terkena tsunami dengan ketinggian 3-4 meter.
Sendai juga merupakan kota dengan jumlah korban meninggal dan hilang paling banyak akibat bencana tersebut. Secara nasional, berdasarkan data kepolisian Jepang yang terbaru, jumlah korban meninggal mencapai 15.845, sementara yang hilang sebanyak 3.339 orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sendai memang menjadi daerah yang paling parah dengan korban terbanyak karena berada hanya 16 mil dari pusat gempa," katanya.
Kota kecil sekitar 600 km ke utara Tokyo tersebut merupakan bagian dari prefektur Miyagi. Sukarelawan yang sekarang berada di area mengerjakan banyak tugas, mulai dari membersihkan puing-puing hingga membantu pembangunan rumah-rumah.
Masih banyaknya salju di area sekitar membuat para sukarelawan kesulitan. Namun, mereka sangat serius membantu pemulihan sehingga salju dan udara dingin tidak terlalu dipikirkan.
Untuk kegiatan bisnis di wilayah tersebut sempat lumpuh selama satu bulan. Saat itu, sama sekali tidak ada listrik dan koneksi komunikasi pula.
"Yang kami lakukan adalah mencari rekan sesama apakah masih hidup, hilang atau bahkan sudah meninggal," kata Kazunari Kimamura, seorang pemilik toko ikan segar di sekitaran Sendai.
Toko miliknya juga habis terendam oleh air bah yang menerjang tiada hentinya. Untungnya, ia bersama anggota keluarganya berhasil menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.
Namun sayangnya, tidak seluruh karyawan tokonya yang berhasil selamat karena terlambat untuk melakukan evakuasi.
Ia mengaku bisa menyelamatkan diri sebelum tsunami terjadi karena merasakan adanya gempa terlebih dahulu. Instingnya mengatakan ia harus mencari tempat tinggi jika terjadi gempa,terutama jika arahnya dari laut.
Akhirnya ia beserta keluarganya berhasil naik ke atas bukit di belakang rumahnya dengan ketinggian sekitar 20-25 meter. Ia bertahan di sana sampai akhirnya diselamatkan oleh tim relawan bencana.
"Barulah dua bulan kemudian kami bisa membuka toko kembali, saat itu beberapa bisnis orang lain sudah ada yang buka," imbuhnya.
Hal yang sama dikemukakan, Hideaki Masuno, pemilik beberapa toko kue dan roti di seputaran Sendai. Tsunami menghancurkan dua dari toko miliknya di Sendai, juga beberapa toko di sebelahnya.
Untungnya, Hideaki punya satu toko di luar Sendai sehingga bisnisnya tidak benar-benar berhenti. Namun, dua tokonya yang hancur di Sendai sama sekali tidak bisa berbisnis.
"Baru di sekitar bulan Juli akhirnya kami bisa membuka bisnis kembali. Toko kami ini sempat terendam sekitar satu setengah meter untuk beberapa lama," cerita hideaki di tokonya yang sudah dibuka kembali.
(ang/qom)











































