Kepala Ekonom ADB, Changyong Rhee menjelaskan, telah terjadi pergolakan harga pangan dan komoditi di dunia akibat dari krisis keuangan yang masih terjadi. Keadaan ini ditambah dengan pengetatan dana untuk penelitian, hingga terjadinya perubahan iklim.
Apa yang terjadi ini merupakan ancaman serius bagi ketahanan pangan di negara ASEAN. "Harga pangan yang meningkat dan bergejolak, terutama beras berdampak pada ketahanan pangan jutaan warga ASEAN," tutur Rhee dalam diskusi di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (6/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Keuangan, Agus Martowardojo menambahkan, pentingnya mewaspadai faktor eksternal yang tidak bisa dihindari Indonesia yakni perubahan iklim.
Bagi Agus ada dua cara untuk mengatasi dampak perubahan iklim, yaitu; pertama, melalui kerja sama kawasan yang lebih kuat, kedua melindungi mereka yang rentan terhadap gejolak harga pangan dengan perbaikan infrastruktur yang lebih ramah lingkungan.
Iwan Aziz, Kepala Kantor Integrasi Ekonomi Regional ADB menyampaikan Asia harus memperbesar pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Langkah ini penting untuk memastikan suara mereka ikut menentukan dalam penataan kembali ekonomi global.
"Pada saat yang sama mereka harus memastikan bahwa seluruh penduduk mereka (bukan hanya sebagian kecil), mendapatkan manfaat dari pertumbuhan tersebut," tutur Iwan dalam rilis yang dipublikasikan.
Bagi ADB, peningkatan pertumbuhan ekonomi domestik dapat berhasil saat ada kemitraan dan pendanaan dalam memperkuat ketahanan pangan, di tengah gejolak harga.
(wep/dnl)











































