"Meskipun bukan jenis pesawat itu. Emang kenapa dari China? MA-60 juga bagus. MA-60 itu skemanya doang yang jelek," kata Dahlan di Kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (21/2/2012).
Dikatakan Dahlan pembelian MA-60 itu sudah cukup bagus dari sisi jenis pesawatnya. Namun dengan skema Subsidiary Loan Agreement (SLA) itu terlalu berat bagi Merpati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan MA-60 cocok untuk tropis. Bandingkan saja dengan pesawat lain yang pakai baling-baling kan pas masuk pesawat panas. Kalau MA-60 itu tidak karena AC tetap nyala," imbuh Dahlan.
Dikatakan Dahlan, MA-60 rekan jejaknya cukup baik. Mungkin hanya satu kecelakaan di Kaimana Papua tahun lalu saja yang membuat nama pesawat itu agak tercoreng. "Satunya-satunya kecelakaan Kaimana saja kan?. Coba lihat Boeing-737, kan banyak kan? Kecelakaan?," tuturnya.
Lebih jauh Dahlan menambahkan ia meminta Direksi Merpati untuk terus mengoptimalkan pesawat MA-60 kedepannya. Pesawat MA-60 merupakan produksi pabrik asal China Xian Aircraft Industry Company Ltd.
Pada ajang Singapore Airshow beberapa waktu lalu ternyata PT Merpati Nusantara Airlines (Merpati) juga telah memesan 40 pesawat jet ARJ 21-700 buatan pabrikan pesawat China lainnya yaitu Commercial Aircraft Corporation of China (Comac). Pemesanan pesawat oleh maskapai plat merah ini memang tak seramai diperbincangkan seperti transaksi pembelian maskapai domestik lainnya seperti Lion maupun Garuda.
Menurut Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo pemasanan ini bagian dari penambahan armada perseroan untuk mendukung program transformasi Merpati di 2016-2018.
(dru/hen)










































