"Kalau mau bersaing dengan China, Indonesia harus menambah utangnya. Kan tidak salah ngutang, tapi dananya tersebut digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan pembangunan infrastruktur," kata Anwar, di sela seminar Indonesia economic policy in challenging global economy, yang diadakan di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (23/2/2012).
Menurut Anwar, utang yang ditarik pemerintah nantinya bisa untuk pembangunan jalan, pembangkit tenaga listrik, pelabuhan, dan bandara. "Khususnya jalan, bayangkan Depok-Salemba macet 3 jam padahal tuh tol kita bayar, bagaimana mau mengalahkan China, kalau Jakarta-Bandung, Jember-Surabaya, Solo-Yogya setiap hari macet," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Coba lihat anggaran APBN kita, banyak buat subsidi minyak, padahal banyak menguap di jalanan karena macet, kalau dibangun jalan yang baik dan tidak macet, anggaran BBM tidak menguap di jalan," ujar Anwar.
Terkait besaran utang Indonesia, menurut Anwar tidak perlu dipermasalahkan. Masih relatif aman.
"Rasio utang Indonesia terhadap PDB kan masih kecil sekali, yakni baru 25% sementara APBN memberi batas maksimal 60%, artinya kan masih sangat besar," tandasnya.
Seperti diketahui, total utang pemerintah Indonesia hingga Januari 2011 mencapai Rp 1.837,39 triliun naik Rp 33,9 triliun dari akhir 2011 yang nilainya mencapai Rp 1.803,49 triliun. Secara rasio terhadap PDB, utang pemerintah Indonesia juga tetap 25% pada Januari 2012.
(dnl/dnl)











































