Timdu BBM Berhasil Selamatkan Uang Negara Rp 2,458 T

Timdu BBM Berhasil Selamatkan Uang Negara Rp 2,458 T

- detikFinance
Selasa, 03 Agu 2004 18:34 WIB
Jakarta - Selama bertugas pada kurun waktu Juli 2000-April 2004, Tim Koordinasi Penanggulangan Penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (Timdu BBM) berhasil menyelamatkan uang negara sebesar Rp 2,458 triliun.Jumlah dana yang berhasil diselamatkan tersebut terdiri dari periode 2000-2001 sebesar Rp 402,32 miliar, tahun 2002 Rp 477,96 miliar, tahun 2003 Rp 126,8 miliar dan Januari-April 2004 sebesar Rp 55,8 miliar.Selain itu, terdapat pula nilai penghematan di Unit Pemasaran 1-8 pada periode 2001-2003 berupa penerapan rayonisasi dan pewarnaan minyak tanah sebesar 1,82 triliun dan nilai temuan impor unleaded gasoline Rp 312,9 miliar.Demikian pemaparan Ketua Timdu BBM, Slamet Singgih, saat menyampaikan laporan pertanggungjawaban Timdu BBM di kantornya, Jl. Plaju, Jakarta Pusat, Selasa (3/8/2004). Slamet menjelaskan, berdasarkan perhitungan keuntungan dan biaya, keberadaan Timdu BBM dinilai sangat bermanfaat karena memiliki rasio kesuksesan 0,45 persen. Hal itu bisa dilihat dari perbandingan keuntungan dan biaya selama Timdu bekerja, dimana biaya yang dikeluarkan Pertamina sebesar Rp 11,081 miliar. Angka itu jauh lebih kecil dibandingkan uang negara yang berhasil diselamatkan mencapai Rp 2,458 triliun."Makanya kami mempertanyakan kepada pihak-pihak yang menilai negatif atas keberadaan Timdu BBM. Kami juga menilai keputusan pemerintah melalui Keppres No. 44 tahun 2004 mengenai pembubaran Timdu BBM merupakan keputusan yang tidak cerdas," tandasnya.Ia juga menilai Presiden tidak mempelajari hasil kerja Timdu BBM namun lebih mendengar laporan-laporan yang disampaikan oleh mereka yang merasa terusik kepentingan bisnis ilegalnya dengan adanya Timdu BBM. Slamet pun mensinyalir, penyalahgunaan BBM tersebut merupakan permainan oknum-oknum Pertamina untuk meraih keuntungan pribadi."Jadi sebetulnya saya menilai Timdu masih dibutuhkan karena pelayanan, penyediaan dan distribusi BBM masih cenderung terjadi penyalahgunaan," katanya. (ani/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads