Menurut anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Golkar Satya W Yudha, untuk subsidi langsung, polanya tidak boleh seperti BLT biasa, melainkan seperti ATM.
"Jadi subsidi langsung ini harus transparan, tidak menggunakan pola BLT. Orang diberikan kartu semacam ATM, conditional cash transfer. Itu diberikan ATM, transfer melalu bank, kalau yang dipelosok bisa melalui BRI," ujarnya kepada detikFinance, Senin (5/3/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita minta hasil dari penghematan tersebut untuk infrastruktur migas, transporatasi darat, ketiga subsidi langsung," katanya.
Guna memenuhi ketiga sektor ini, Satya meminta agar pemerintah dapat menghitung betul jumlah yang proporsional sehingga tidak ada satu sektor saja yang mendapatkan alokasi lebih banyak dibandingkan yang lain.
"Dana untuk BLT itu tidak boleh melebihi dari uang penghematan itu. Kalau untuk BLT lebih dari Rp 30 triliun, itu terlalu besar. Sesuai porsinya saja, yang jelas untuk 3 prioritas itu," tegasnya.
Dengan sistem semacam ini, lanjut Satya, selain membudayakan gemar menabung di kalangan masyarakat menengah bawah, melainkan juga menghindari adanya otoritas Kartu Susunan Keluarga (KSK) yang memberikan peluang penyelewengan.
"Sistem ini akan menyebabkan masyarakat gemar menabung juga karena subsidi tidak dipaksa habis begitu saja, dan mencegah manipulasi dari otoritas-otoritas KSK, jadi yang sudah meninggal masih dikasih BLT," pungkasnya.
(nia/ang)











































