"Mungkin kita akan sesuaikan pertumbuhan ekonomi kita, saya kira kita turun jadi 6,5%," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (5/3/2012).
Selain itu, defisit akan diperlebar menjadi 2,2% plus minus 0,2% dari perkiraan sebelumnya 1,5% di APBN 2012.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guna menutup defisit tersebut, Agus Marto menyatakan pemerintah akan melakukan penghematan anggaran belanja kementerian/lembaga(K/L). Anggaran yang bisa dihemat itu berkisar Rp 18,8triliun sampai Rp 22 triliun.
"Itu caranya dengan tingkatkan penerimaan negara, kurangi subsidi, dan potong anggaran kementerian lembaga. Anggaran K/L itu yang dipotong Rp 18,8-22 triliun, itu kita potong," jelasnya.
Untuk tambahan pembiayaan, Agus Marto menyatakan akan menambah utang baru sekitar Rp 25-50 triliun sehingga total gross sekitar Rp 300 triliun.
"Secara dokumen kita akan menambah Rp 25 triliun. Tambahan SBN (surat berharga negara) netto mungkin Rp 25 triliun karena pembahasan akan berjalan, kita sebut aja Rp 25-50 triliun begitu. Kurang lebih sama kira-kira satu tahun kita akan memerlukan pembiayaan baru kira-kira Rp 300 triliun. Setengahnya mungkin untuk perpanjangan yang jatuh tempo, dan setengahnya mungkin baru," tandasnya.
Agus Marto akan mengajukan revisi pertumbuhan tersebut melalui RAPBN-P dalam rapat paripurna DPR RI yang akan berlangsung pada Selasa (6/3/2012).
Pemerintah dipastikan akan mengubah asumsi makro dalam rancangan perubahan tersebut seperti harga minyak yang sebelumnya US$ 90 per barel menjadi kisaran US$ 105 per barel dan lifting (produksi) minyak menjadi turun dari sebelumnya 950 ribu barel per hari menjadi kisaran 910 ribu-940 ribu barel per hari.
Sementara, laju inflasi yang sebelumnya ditetapkan 5,3% menjadi kisaran 6-7%, nilai tukar dari sebelumnya Rp 8.800 per dolar AS menjadi kisaran Rp 8.800-Rp 9.000 per dolar AS. Sedangkan untuk SBI 3 bulan diperkirakan tidak mengalami perubahan dari asumsi saat ini sebesar 6%.
(nia/dnl)










































