Masih Tertekan, Harga Emas Berpotensi Naik Jangka Panjang

Masih Tertekan, Harga Emas Berpotensi Naik Jangka Panjang

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Rabu, 07 Mar 2012 07:54 WIB
Masih Tertekan, Harga Emas Berpotensi Naik Jangka Panjang
Jakarta - Harga emas bersama beberapa komoditas lain masih belum bisa lepas dari tekanan, salah satunya karena revisi proyeksi pertumbuhan China. Tapi secara jangka panjang masih berpotensi naik.

Menurut Analis Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, harga emas masih melakukan konsolidasi dalam rentang US$ 1.686-1.724 per troy ons. Meski belum sanggup menguji level US$ 1.724 per troy ons sebagai level resisten pentingnya, hal ini bukan berarti bahwa harga emas sudah terkonfirmasi memasuki tren bearish.

"Bila dilihat dari indikator GMMA (guppy multiple moving average) pada grafik 4 jam dan 1 jam memang terlihat tekanan turun pada harga emas. Namun pada grafik harian, indikator GMMA masih mengindikasikan tekanan naik pada harga emas," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (6/3/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek berpotensi melakukan konsolidasi dan masih memiliki potensi naik dalam jangka panjang," tambahnya.

Ia mengatakan, level support US$ 1.686 adalah level tahanan penting, bila ini tertembus ke bawah, maka probabilitas tren penurunan harga emas makin besar.

"Jadi para pelaku pasar akan mewaspadai level ini," jelasnya.

Pengumuman revisi proyeksi pertumbuhan China, kata dia, membantu menekan harga emas. Harga emas berkorelasi dengan kenaikan inflasi. Sementara pelambatan pertumbuhan menyiratkan bahwa tekanan inflasi berkurang.

Selain itu, revisi pertumbuhan ekonomi China juga berpengaruh terhadap laju kenaikan harga minyak mentah. Namun demikian harga minyak mentah masih tertahan di level atas $100 per barel karena ketegangan di Iran masih belum reda.

"Dari sisi teknikal, terlihat pergerakan naik harga minyak dibatasi oleh level resisten di kisaran US$ 107,41. Indikator GMMA (guppy multiple moving average) masih mengindikasikan bahwa potensi naik masih belum hilang dan ini akan membuat harga minyak mentah melakukan konsolidasi dulu di sekitar level US$ 105-107 per barel," ujarnya.

"Level US$ 105,48 akan menjadi support penting karena lepas dari level ini akan membuat harga minyak mentah amblas hingga mendekati level US$ 100 per barel," imbuhnya.

(ang/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads