Pertamina: Proyek TPPI Sangat Menguntungkan
Kamis, 05 Agu 2004 17:20 WIB
Jakarta - PT Pertamina (Persero) memastikan proyek Trans Pacific Petrochemical Indonesia (TPPI) di Tuban, Jawa Timur (Jatim), merupakan proyek yang menguntungkan karena telah dikaji melalui analisa risiko. Pertamina menilai proyek tersebut sangat strategis dalam menjaga kebutuhan BBM di wilayah Jatim.Pertamina juga memastikan pihaknya memiliki hak untuk mengambilalih aset senilai US$ 400 juta sesuai pinjaman, apabila proyek tersebut tidak dapat diteruskan. Demikian diungkapkan Kepala Divisi Hupmas Pertamina, Hanung Budya, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/8/2004)."Proyek itu sangat menguntungkan dan memiliki arti strategis bagi perusahaan. Dengan demikian, tidak perlu ada kekhawatiran atas adanya potensi kerugian negara sebesar US$ 400 juta atas keikutsertaan Pertamina dalam proyek tersebut," kata Hanung.Sebelumnya, Ketua Masyarakat Profesional Madani (MPM) Ismed Hasan Putro menengarai Pertamina berpotensi mengalami kerugian hingga US$ 400 juta dalam proyek TPPI. Pasalnya, Pertamina dikenakan kewajiban untuk menyerahkan produk low sulphur wax residue (LSWR) sebanyak 20 ribu barrel per hari sejak konstruksi proyek tersebut dimulai.Keadaan tersebut, menurut Ismed, sangat membahayakan Pertamina. Karena selama masa penyelesaian konstruksi dua tahun, Pertamina tidak memperoleh kompensasi apapun atas suplai 20 ribu barrel LSWR per hari tersebut. Ironisnya, Pertamina tetap harus mensuplai produk tersebut sampai mencapai ekuivalen US$ 400 juta, meskipun pembangunan proyek ini gagal di tengah jalan dengan alasan apapun.Menanggapi pernyataan MPM tersebut, dijelaskan Hanung, keterlibatan Pertamina lewat kepemilikan 15 persen saham dalam proyek tersebut telah melalui analisa risiko. Menurutnya, dalam perjanjian proyek tersebut disepakati TPPI akan menyelesaikan konstruksi kilang dalam jangka waktu maksimal 24 bulan, sejak Juni 2004.Untuk itu, konsorsium donor setuju memberi pinjaman senilai US$ 400 juta dengan jaminan kompensasi berupa produk LSWR dari Pertamina selama 6 tahun, terhitung sejak pengalihan (swap) pertama yang direncanakan pada bulan ke-21 dari konstruksi kilang.Menurut Hanung, untuk periode tiga tahun pertama, Pertamina wajib menyuplai LSWR sebanyak 16.000 barel per hari. Pada tiga tahun berikutnya sebanyak 18.000 barel per hari. Hal itu akan direvisi setiap enam bulan.Dengan jumlah itu, maka dalam waktu maksimal 6 tahun, Pertamina akan dapat menyelesaikan pinjaman berikut bunga kepada lender. Pertamina juga mendapatkan sejumlah produk high octan mogas component (HOMC) sejumlah 2,37 juta barel per tahun, kerosin 3 juta barel per tahun dan gasoil 1,3 juta barel per tahun."Kita juga akan memperoleh dividen atas kepemilikan saham sebesar 15 persen di TPPI dan diperoleh dari keuntungan penjualan produk petrokimia. Jadi TPPI ini penting untuk memenuhi kebutuhan BBM di Jatim yang tidak memiliki kilang sendiri. Dengan kerjasama tersebut diharapkan, impor BBM dapat dikurangi sekaligus dapat menghemat devisa negara," sambung dia seraya mengatakan 60 persen konsumsi BBM Jatim dipenuhi melalui impor.
(ani/)











































