Tumpukan utang Eropa belum juga habis menggerogoti perkembangan ekonomi, sekarang harga minyak dunia kembali naik. Menambah beban krisis akibat utang.
Harga minyak yang tadinya US$ 99-100 per barel, sekarang sudah melampaui US$ 120 per barel. Ini merupakan pukulan telak bagi industri penerbangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti dilansir dari CNN, Senin (26/3/2012), Tony Tyler, kepala IATA β organisasi perwakilan industri penerbangan, mendeskripsikan bisnis di bidang ini lemah namun masih menguntungkan.
"Dengan kenaikan harga minyak hingga lebih dari 30%, maskapai penerbangan ibarat kena dua kali hajar. Harga tiket naik, orang semakin jarang bepergian. Sisi pendapatan dan pengeluaran sama-sama kena imbasnya," kata Tony.
Itulah sebabnya IATA menurunkan proyeksi laba untuk industri sebesar US$ 500 juta menjadi US$ 3 miliar pada tahun 2012. Angka US$ 3 miliar mungkin terdengar sangat besar, hingga Anda menyadari kalau itu diambil dari total pendapat US$ 630 miliar.
Dalam kata lain, marginnya hanya 0.5%. Laba yang sangat menyedihkan bagi modal, sumber daya dan investasi. "Kejutan kecil akan berdampak kerugian sangat besar di seluruh penjuru dunia," katanya.
Tidak ada satu pun maskapai penerbangan yang kebal dari hal ini. Bahkan bagi para maskapai Timur Tengah yang konon kerap diuntungkan dengan murahnya bahan bakar.
Industri penerbangan dibebani oleh pajak tiket, harga bahan bakar selangit dan ketatnya peraturan penerbangan ke Eropa yang dikeluarkan oleh Sistem Perdagangan Emisi Gas.
Tak heran jika Tyler bisa bilang kalau nasib industri penerbangan bak di ujung tanduk, namun tidak terlalu parah hingga akan berujung pada kebangkrutan.
(ang/ang)











































