Kim bicara kepada AFP saat ditemui di Vinitaly Fair di Verona, Italia awal pekan ini. Vinitaly Fair adalah salah satu pameran wine terbesar di dunia dengan total 4.400 eksibitor.
“Hingga saat ini, ada lebih dari 700 restoran Italia yang beroperasi di Korea Selatan. Otomatis, permintaan wine Italia akan meningkat,” kata Kim yang juga kepala deputi asosiasi importir wine Korea Selatan dilansir dari AFP, Kamis (29/3/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini berubah ketika pengusaha kebun anggur Italia mulai melihat jauh, melampaui pasar tradisional mereka di Eropa dan Amerika Utara. Apalagi, wine mulai menjadi sesuatu yang fashionable di Asia, selain sebagai pendamping bersantap kuliner Italia.
Wine merupakan salah satu dari daftar produk buatan asli Italia yang mencari peningkatan penjualan di pasar Asia. Inilah misi yang dibawa oleh Perdana Menteri Italia, Mario Monti saat mengunjungi Jepang, China dan Korea Selatan pekan ini.
Penjualan wine juga terbantu oleh perubahan kebiasaan konsumen Asia. “Dulu konsumen Asia lebih suka minuman yang berkadar alkohol tinggi,” kata Benjamin Chau, kepala deputi Hong Kong Trade Development Council.
“Sekarang mereka lebih sadar dan peduli terhadap kesehatan. Standar hidup juga sudah semakin baik. Maka mereka lebih memilih minum wine,” lanjutnya. Chau juga berkunjung ke Verona untuk menandatangani perjanjian kerjasama resmi untuk pameran wine Hong Kong tahun ini yang melibatkan 200 perusahaan Italia.
“Italia benar-benar pusat mode dan gaya hidup. Saya sangat menyukai wine Italia yang berkarakter kuat dan penuh kepribadian,” kata Chau lagi.
Debra Meiburg, pakar wine yang sudah bekerja di Asia selama 25 tahun dan punya program televisi sendiri adalah pionir dalam pendidikan konsumen Asia. “Saya rasa ini waktu yang tepat untuk wine Italia. Selama ini kita terobsesi dengan Bordeaux dan sekarang Burgundy. Tapi Italia dipastikan masuk sebagai gelombang berikutnya.”
Debra mengungkapkan bahwa konsumen Asia senang meriset wine sebelum membelinya. Mereka ingin merasa percaya diri saat menyajikan wine itu kepada teman dan rekan. Menurutnya, trik yang sebaiknya diterapkan Italia adalah membantu orang memahami asal usul minuman anggur yang mereka produksi.
Konsumsi wine di Asia tahun lalu mencapai 5.5 miliar liter, naik 10% dari tahun 2010. Para pakar memprediksikan kenaikan konsumsi hingga 6 miliar liter pada akhir 2015.
“Pertaruhan terbesar untuk produsen wine saat ini adalah China,” kata Ettore Nicoletto, pimpinan grup wine Santa Margherita. Menurutnya, kunci penting ada di pemahaman tentang wine, mengapa memabukkan dan bagaimana cara menggabungkannya dengan makanan.
Pierangelo Tommasi dari perkebunan anggur Tommasi yang baru saja merayakan ulang tahun ke 110 tahun ini mengatakan, ekspor menguasai 80% porsi penjualan perusahaannya. Namun Asia hanya 8% dari pasar ekspornya. Tommasi mengakui kalau Italia ketinggalan dibanding Perancis yang mulai ekspor ke Asia jauh lebih dulu.
(ang/ang)










































