"Dulu saya sering ke Amerika mencari ide. Sekarang ke China," ungkap Dahlan saat tampil dalam acara talkshow "Pemimpin Muda, belajar Merawat Indonesia" di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (29/3/2012).
Jika ide-idenya sudah mentok atau buntu, dia akan pergi ke sebuah desa di China. Di desa-desa itu, dia merasa terobati dan semangatnya kembali muncul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Contohnya pembangunan jalan tol di China hanya dilakukan dengan singkat dan tepat waktu. Semangatnya yang harus kita tiru," katanya.
Dia kemudian bercerita di sebuah desa Shio Kang sekitar satu jam dengan pesawat dari Guang Zhou merupakan salah sering tempat yang sering didatangi. Di tempat itu, dia mengaku banyak belajar mengenai pertanian.
Menurutnya desa itu dulu semua sawah milik negara. Petani hanya sebagai penggarap sawah. Hasil panen diambil semuanya oleh pemerintah. Namun para petani dicukupi makan, pendidikan dan kesehatan.
Ternyata kata dia, yang disebut petani cukup itu menurut para petani di sana adalah cukup miskin. Sehingga ada rapat gelap yang dipimpin oleh ketua kelompok tani. Petani tidak ada semangat karena hasilnya tidak bisa mereka nikmati.
"Rapat gelap itu memang benar-benar gelap. Sebab diadakan di malam hari tanpa lampu," katanya.
Jika ketahuan pasti mereka akan dihukum mati. Saat rapat, sudah ada perjanjian antara peserta rapat, jika ada yang dihukum mati. Orang/petani yang masih hidup menanggung keluarga yang dihukum mati.
Dalam rapat itu, kisah dia, semua areal sawah yang dikuasai negara itu dikelola dengan baik. Petani menggarap dengan sungguh-sungguh dan dibagi per wilayah. Karena digarap dengan baik dan penuh semangat hasil panen selalu berlebih.
"Hasil panen yang berlebih tidak disetorkan semuanya ke pemerintah, tetapi yang disetorkan sama dengan jumlah tahun lalu, sisanya disimpan," para Dahlan.
Karena ada persediaan beras lanjut dia, saat paceklik, banyak desa yang penduduknya kelaparan. Tetapi di desa itu aman dan tidak ada yang kelaparan.
Pemimpim daerah (setingkat bupati) saat itu tidak berani menghukum warga, tetapi dia bicara dengan pemimpin komunis saat itu ternyata justru menjadikan desa itu sebagai desa percontohan pertanian.
"Saat ini desa itu menjadi museum tani," kata Dahlan.
(bgs/dru)











































