Kenaikan BBM Merusak Anggaran Rumah Tangga

Kenaikan BBM Merusak Anggaran Rumah Tangga

- detikFinance
Jumat, 30 Mar 2012 14:12 WIB
Kenaikan BBM Merusak Anggaran Rumah Tangga
Jakarta - Perencana Keuangan Independen, Aidil Akbar Madjid, menilai naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi menjadi Rp 6.000 per liter akan merusak kesehatan finansial rumah tangga. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta.

Dalam blognya Aidil mengatakan, klien AFC Financial Check Up miliknya kebanyakan berasal dari Jakarta sehingga ia bisa melakukan riset kecil-kecilan kepada keluarga kelas menengah ibukota.

Tahap awal naiknya BBM akan mempengaruhi biaya transportasi, terutama bagi mereka yang punya kendaraan pribadi. Setelah itu masih ada efek domino atau penerusan dari hanya ongkos transportasi tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka yang naik kendaraan pribadi (mobil) bisa menghabiskan biaya transportasi (atau yang berhubungan dengan transpor) sebesar antara 20–30% dari penghasilan mereka," kata Aidil dalam blognya yang dikutip detikFinance, Jumat (30/3/2012).

"Apalagi mereka yang sebenarnya secara keuangan belum mampu beli kendaraan pribadi tapi memaksakan. Yang artinya adalah, untuk memenuhi kebutuhan hidup hanya 'tersisa' dana sebesar 70-80% dari penghasilan," tambahnya.

Bisa dibayangkan apabila BBM kemudian naik dari Rp 4.500 ke Rp 6.000 atau bahkan ke Rp 6.500 maka kenaikan tersebut besarannya di atas 30%. Otomatis biaya transpor ikut naik.

Tidak berhenti sampai disitu, efek domino efek dari kenaikan biaya BBM ini maka biaya hidup lainnya seperti makan/minum juga akan ikutan naik.

"Akibatnya dapat ditebak tadi, BBM naik, rusak keuangan rumah tangga," katanya.

Ia meminta masyarakat berpikir positif dalam menghadapi naiknya harga BBM ini. Sebaiknya, masyarakat mulai melakukan penghitungan ulang atas anggaran rumah tangga mereka.

Momen kenaikan BBM ini, kata Aidil, bisa juga dipakai sebagai momen untuk kita memulai pencatatan keuangan dan menata keuangan bulanan.

"Buatlah daftar pengeluaran bulanan dan mulai sekarang pisahkan mana pengeluaran utama, kemudian kewajiban, baru kemudian sekunder," katanya.

Kalau masyarakat sudah bisa membuat daftar dengan kebutuhan primer, sekunder dan tertier, maka dengan mudah bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan kebutuhan yang kurang perlu dan bukan utama.

"Sehingga kenaikan harga BBM (apabila benar terjadi) ini tidak menjadi masalah yang menakutkan buat kita dan keluarga kita," jelasnya.

Selengkapnya bisa dibaca di www.aidilakbar.com


(ang/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads