Dalam blognya Aidil mengatakan, klien AFC Financial Check Up miliknya kebanyakan berasal dari Jakarta sehingga ia bisa melakukan riset kecil-kecilan kepada keluarga kelas menengah ibukota.
Tahap awal naiknya BBM akan mempengaruhi biaya transportasi, terutama bagi mereka yang punya kendaraan pribadi. Setelah itu masih ada efek domino atau penerusan dari hanya ongkos transportasi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi mereka yang sebenarnya secara keuangan belum mampu beli kendaraan pribadi tapi memaksakan. Yang artinya adalah, untuk memenuhi kebutuhan hidup hanya 'tersisa' dana sebesar 70-80% dari penghasilan," tambahnya.
Bisa dibayangkan apabila BBM kemudian naik dari Rp 4.500 ke Rp 6.000 atau bahkan ke Rp 6.500 maka kenaikan tersebut besarannya di atas 30%. Otomatis biaya transpor ikut naik.
Tidak berhenti sampai disitu, efek domino efek dari kenaikan biaya BBM ini maka biaya hidup lainnya seperti makan/minum juga akan ikutan naik.
"Akibatnya dapat ditebak tadi, BBM naik, rusak keuangan rumah tangga," katanya.
Ia meminta masyarakat berpikir positif dalam menghadapi naiknya harga BBM ini. Sebaiknya, masyarakat mulai melakukan penghitungan ulang atas anggaran rumah tangga mereka.
Momen kenaikan BBM ini, kata Aidil, bisa juga dipakai sebagai momen untuk kita memulai pencatatan keuangan dan menata keuangan bulanan.
"Buatlah daftar pengeluaran bulanan dan mulai sekarang pisahkan mana pengeluaran utama, kemudian kewajiban, baru kemudian sekunder," katanya.
Kalau masyarakat sudah bisa membuat daftar dengan kebutuhan primer, sekunder dan tertier, maka dengan mudah bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan kebutuhan yang kurang perlu dan bukan utama.
"Sehingga kenaikan harga BBM (apabila benar terjadi) ini tidak menjadi masalah yang menakutkan buat kita dan keluarga kita," jelasnya.
Selengkapnya bisa dibaca di www.aidilakbar.com
(ang/dru)











































