"Inflasi yang 0,07% kalau kita lihat tahaun lalu pada bulan yang sama bahkan dua tahun lalu berturut-turut terjadi deflasi. Tidak jadi deflasi karena ada barang-barang yang naik," ujar Kepala BPS, Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Jalan DR Sutomo, Jakarta, Senin (2/4/2012).
Suryamin menjelaskan yang menyebabkan inflasi antara lain adalah harga cabai rawit cukup tinggi karena kekurangan pasokan dari sentra produksi. Kenaikan cabai rawit terjadi di 46 kota, sejak minggu pertama Maret, harga tertinggi di Kediri 86%, Gorontalo 84%, kota-kota lainnya 10-75%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Besaran inflasi year on year di Maret 2012 mencapai 3,97%. Sementara inflasi di Januari-Maret 2012 mencapai 0,88%
Dari 66 kota di Indonesia, sebanyak 34 kota mengalami inflasi, dan 32 kota mengalami deflasi.
Inflasi tertinggi adalah di Ambon 1,33%, Manado 1,12%. Sementara inflasi terendah adalah di Malang 0,01%. Kalau untuk deflasi tertinggi Jayapura 1,44%
Sementara yang menyumbang deflasi di Maret adalah bahan bakanan 0,33%, sementara sepeti minuman dan rokok menyumbang inflasi 0,46%, listrik dan perumahan 0,2%. sandang 0,15%, kesehatan 0,16%, pendidikan dan rekreasi 0,07%, transportasi dan komunikasi dan jasa keuangan 0,1%
Beberapa barang yang menyumbang deflasi utama adalah beras.
"Beras ini karena bulan Maret dan April sedang panen. Terjadi penurnan harga di 44 kota, Serang sampai 9%, Sukabumi dan Mataram turun 8%," katanya.
Selain itu tercatat barang kebutuhan pokok penyumbang deflasi antara lain daging ayam ras karena ketersedian cukup, terjadi penurunan harga di 56 kota, Samarinda 13%, Parapat 12%.
Penyumpang deflasi lainnya adalah telor ayam ras karena ketersediaan stok cukup, terjadi penurunan harga di 50 kota, misalnya Kediri dan Pare Pare 9%, Cirebon, Tarakan, Mamuju turun 8%, ada juga sepuluh kota yang lainnya mengalami kenaikan harga. Sementara itu tomat dan sayur turun di 44 kota, misalnya Manokwari 40%.
(hen/dnl)











































