“Ini kaitannya dengan reveneu pajak negara, kalau tidak diaudit dengan benar, dan datanya dimainkan ini sama saja dengan pencurian,” kata Fuad di Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar Gambir, Senin (2/4/2012).
Menurut Fuad, surveyor yang akan dipakai nanti akan ditenderkan lebih dahulu, dan pemenangnya harus mempunyai kredebilitas internasional. “Kita akan tenderkan dahulu, yang lokal boleh ikut, namun pemenangnya harus memiliki kelas internasional,” ujar Fuad.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Memang untuk memakai Surveyor asing memerlukan biaya yang mahal, namun sebandinglah dengan hasilnya dan tidak akan menggangu pendapatan negara juga,” ujarnya.
Apalagi hingga sampai saat ini Indonesia tidak pernah sama sekali diaudit oleh Surveyor asing. “Tujuannya ingin mendapatkan angka sebenarnya, agar bisa diklarifikasi, bukan untuk menakuti-takuti asing, tetapi tujuannya untuk mengoptimalkan penerimaan negara, sementara sampai hari ini belum pernah perusahaan Migas diaudit oleh auditor asing,” ungkapnya.
Tapi diakui Fuad, pihaknya memang belum berpengalaman di sektor Migas. “Ya memang nanti kita dianggap sok tahu, kami akui kita juga belum berpengalaman di sektor Migas, namun kita harus mulai terlebih di Pertambangan dahulu, tapi saya yakin pegawai Pajak jago-jago semua,” tandasnya.
(rrd/dru)











































