Batalnya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp 6.000 per liter disayangkan kalangan dunia usaha, pasalnya sudah sangat realistis harga BBM naik. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mengungkapkan jika BBM tidak naik sementara kondisi dunia minyaknya mengalami kenaikan maka RI sama saja hidup di alam mimpi.
Hal tersebut seperti diungkapkan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Suryo Bambang Sulisto, dimana dirinya mengungkapkan secara realistis harga BBM bersubsidi sepentasnya harus naik, pasalnya saat ini rakyat Indonesia tidak sedang hidup di alam mimpi.
"BBM batal naik, memangnya kita hidup di alam mimpi, sudah sangat realistis harga BBM kita naik, karena harga minyak dunia terus melonjak, kalau mau murah terus BBM kita apa kita mau hidup di alam mimpi terus, kan tidak," ujar Suryo ketika ditemui di Kantornya, Kuningan, Jakarta, Kamis (5/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena memang tidak mungkin membiarkan negera terus mensubsidi harga BBM kita, sementara BBM bersubsidi ini lebih banyak dinikmati kalangan yang sebenarnya sangat mampu beli BBM non subsidi," ujarnya.
Untuk itu, pihaknya memahami dan mendukung upaya pemerintah untuk segera melakukan penyesuaian harga BBM.
"Kita realistis saja, tidak mungkin BBM kita tidak naik, harus naik, karena pada kenyatannya minyak dunia harganya naik terus, dan ini sesuaitu yang tidak bisa dihindari, dan kami dari kalangan usaha dan bisnis mendukung pemerintah segera menaikan harga BBM," tandasnya.
(rrd/dru)











































