Utang RI 'Menggunung', Hatta Ajak Masyarakat Hemat

Utang RI 'Menggunung', Hatta Ajak Masyarakat Hemat

Ramdhania El Hida - detikFinance
Senin, 09 Apr 2012 18:53 WIB
Utang RI Menggunung, Hatta Ajak Masyarakat Hemat
Jakarta - Menko Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan untuk mengurangi utang maka diperlukan penghematan yang dilakukan oleh seluruh masyarakat. Masyarakat diminta jangan manja.

"Kita menuju balance budget tapi kalau mau menuju balance budget anggaran yang seimbang, maka harus berani hemat. Jangan BBM tidak boleh naik, tapi tidak mau hemat, jangan BBM tidak boleh naik, tapi Alphard isi Premium, ya itu namanya sarua jeung bohong," ujar Hatta saat ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (9/4/2012).

Menurut Hatta, pemerintah tetap berupaya untuk terus mengurangi utang baru. Namun, lanjut Hatta, jika utang tersebut digunakan untuk pembiayaan infrastruktur maka tidak ada salahnya untuk berutang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita tidak ingin ada utang baru tapi kalau ingin membiayai pembangunan dan dana itu produktif untuk membiayai infrastruktur ya harus kita lakukan walaupun kita menjaga rasio itu menurun, itu yang paling penting sekarang 25 persen terhadap GDP itu, atau utang terhadap GDP itu, itu yang harus kita jaga agar tidak membebani negara," tegasnya.

Pada tahun ini, Hatta menyatakan utang tetap ditahan di bawah 3 persen atau sekitar 2,23 persen.

"Makanya defisit kita jaga di 2,23 persen ditambah 0,5 defisit daerah maka kita perkirakan harus di angka 190 itu defisit kita, dari 1500 triliun belanja negara maka defisit 2,23 persen dari GDP kita," pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, total utang pemerintah Indonesia hingga Februari 2012 mencapai Rp 1.844,96 triliun naik Rp 41,47 triliun dari akhir 2011 yang nilainya mencapai Rp 1.803,49 triliun. Secara rasio terhadap PDB, utang pemerintah Indonesia berada di level 25,5% pada Februari 2012.

Jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah di Februari 2012 mencapai US$ 203,08 miliar jumlah ini naik dari posisi di akhir 2011 yang mencapai US$ 198,89 miliar.

(nia/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads