Seorang staff marketing di Thamrin City yang tak mau disebutkan namanya mengatakan hal ini disebabkan karena kurangnya sosialisasi dan promosi terhadap masyarakat mengenai mal ini. "Iya gerai ini pada kosong, kurang promosi," ujarnya kepada detikFinance, Selasa (10/4/12).
Berdasarkan pantauan detikFinance, beberapa lantai di dalam mal tampak lengang, bahkan dari ketiga lantai teratas tampak tidak ada gerai itu yang ditempati. Sementara itu, Harris salah seorang staf marketing mengatakan hal ini dikarenakan produk yang dijual di mal yang sudah berdiri sejak 2005 ini kurang beraneka ragam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sangat berbeda dengan apa yang terjadi di Plaza Indonesia yang merupakan 'tetangga' dari Thamrin City. Dari pantauan detikFinance terlihat seluruh ruang tenant terisi penuh oleh gerai yang beraneka ragam.
Menanggapi hal ini, Harris mengatakan Thamrin City memang merupakan mal untuk kelas menengah ke bawah, sedangkan Mal-mal besar seperti Plaza Indonesia dan 3 mal besar yang akan berdiri tahun ini seperti Ciputra World, Kota Kasablanka, Kemang Village merupakan mal kelas atas.
"Kalau ini menengah kebawah, walaupun kemasan dari luar yang mewah. Tapi barang yang diperdagangkan menengah ke bawah. Yang datang kesana (Plaza Indonesia) kan orang yang tau merk. Dateng untuk makan, entertainment dan belanja produk mahal," tambahnya.
Selain itu, perbandingan yang mencolok terjadi dari sisi omzet penjualan produk di masing-masing mal. Dina, seorang penjaga toko pakaian di Thamrin City menuturkan omzet yang didapatnya hari ini hanya sebesar Rp 65.000. Sangat berbeda dengan salah satu toko pakaian di Plaza Indonesia yang mendapatkan omzet Rp 30 juta.
"Hari ini baru Rp 30 juta, biasanya Rp 50 juta," tutur Rita seorang penjaga toko pakaian di Plaza Indonesia.
(zlf/hen)










































