"Saya mohon maaf, E-Toll Pass belum terpasang. Harapkan kami akhir bulan ini sudah bisa. Sekarang masih tertahan di Bea Cukai. Mudah-mudahan keluar dari sana minggu ini," kata Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk, Adityawarman di gerbang tol Cililitan, Jakarta, Senin (16/4/2012).
Adit menambahkan, tertahannya izin keluar barang e-Toll Pass terkait pancaran sinyal yang dikeluarkan alat tersebut. Bea Cukai masih melakukan penelaahan lebih lanjut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena dianggap ada sinyal, ini ada urusannya dengan Menteri Kominfo (Komunikasi dan Informasi). Aduh...aduh," sesalnya.
Padahal dengan teknologi e-Toll Pass, lalu lintas jalan tol di Indonesia akan lebih modern. "Ini supaya kelihatannya moderen. Masak harus keluar uang, atau tempel kartu. Kita ingin harga diri seperti orang Singapura atau Amerika Serikat," tegas Dahlan.
Sebelumnya, perseroan memang berencana memasang GTO e-Toll Pass. Hingga kini, 30 GTO telah terpasang di seluruh gerbang milik perseroan. Alat ini merupakan pengembangan tahap I saat ini yang mekanismenya adalah pengendara harus menempelkan kartu di alat yang telah terpasang.
"Jadi harus ada 'ongkos' lebih dari pengendara, yaitu buka kaca. Kalau dengan 50 GTO dengan e-toll pass bisa langsung karena ada alat OBU (on board unit) yang terpasang di mobil," tutur Adit waktu itu. Pengembangan e-Toll pass baru saja dimulai. Teknologi ini baru terpasang pada empat titik yakni, GT Cililitan, GT Cengkareng, GT Halim, dan terakhir GT Kapuk.
Dengan e-Toll pass diharapkan transaksi terjalan otomatis dan cepat. Target transaksi satu kendaraan hanya 2,3 detik. Sedangkan GTO dengan sistem 'tempel dan buka kaca' butuh waktu lebih lama hingga 5 detik.
Pengembangan e-toll pass baru saja dimulai. Teknologi ini baru terpasang pada empat titik yakni, GT Cililitan, GT Cengkareng, GT Halim dan terakhir GT Kapuk.
(wep/dnl)











































