Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo mengatakan fenomena ini terlihat dengan kenaikan harga sembako di berbagai seluruh daerah di Indonesia. Ia menyebutkan selain cabai, beras menjadi kebutuhan sembako yang harganya berpotensi naik.
"Beras berpotensi naik. Tapi, ini kita masih bisa jaga terus agar tidak terlalu naik atau melambung tinggi," kata Gunaryo di Jakarta, Jumat (20/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebutkan bila kebijakan kenaikan BBM subsidi dipilih, potensi kenaikan harga sembako lebih besar. "Lebih kencang kenaikan BBM dibandingkan pembatasan ya. Kalau pembatasan kan secara bertahap untuk mobil pemerintah dulu. Kalau kenaikan kita (pemmerintah) sudah prediksi inflasinya terhadap sembako," sebutnya.
Menurutnya dibandingkan beras, potensi kenaikan cabai lebih tajam. Saat ini, cabai masih memiliki harga tinggi dibandingkan harga kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) lainnya. Hal ini terjadi sebelum ada isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Pengaruh kenaikan cabai karena dipengaruhi musim panen.
"Kalau cabai sekali tanam itu sedikitnya bisa 20 kali panen. Kalau bagus, bisa 30 panen. Siklus sejak wacana kenaikan BBM subsidi memang tidak bagus. Apalagi ditambah permintaan dari luar Jawa yang begitu tinggi. Jadi, harganya bisa tertahan bahkan meningkat," ujarnya.
Dia menjelaskan untuk mencegah kenaikan harga cabai melambung pemerintah daerah harus bisa mengotimalkan bila ada musim panen cabai. "Kalau panen secara serentak pemanfaatan cabe ini harus kita semaksimal mungkin. Jadi, seperti negara tetangga yang di pasar-pasar tradisionalnya menjual cabe dalam keadaan kering," sebutnya.
(hen/hen)











































