Ekonomi RI 2005 Diprediksi Tumbuh 4,5 Persen
Rabu, 11 Agu 2004 17:10 WIB
Jakarta - Chief Economist Deutsche Bank Group, Dr. Norbert Walter, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2005 tidak akan jauh berbeda dengan tahun ini. Tahun depan, ekonomi Indonesia diperkirakan hanya akan tumbuh 4,5 persen atau sedikit lebih rendah dibanding tahun 2004 yang ditargetkan 4,7 persen."Kenapa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,5 persen, karena terpengaruh ekonomi global dan Indonesia masih memiliki satu potensi yang belum digarap secara optimal yakni potensi untuk memanfaatkan kapasitas produksinya, terutama lamanya transisi pemerintahan baru," kata Walter dalam keterangan persnya di Hotel Shangri-la, Jakarta, Rabu (11/8/2004).Disebutkan Walter, setidaknya ada dua hal yang menyebabkan ekonomi Indonesia belum akan terlalu tinggi pada tahun depan. Pertama, harga minyak dalam negeri masih disubdisi sehingga menghilangkan sumber dana. Kedua, meski telah melakukan reformasi, ternyata Indonesia masih kalah atraktif dengan negara-negara tetangga yang mengakibatkan masuknya modal asing masih jauh dari harapan.Ia juga memprediksi, pada tahun 2005 mendatang, ekonomi Jepang hanya akan tumbuh 1,6 persen, Uni Eropa 2,4 persen dan 10 negara Asia hanya akan tumbuh 6,4 persen, dibanding tahun ini yang tumbuh 7 persen.Terkait dampak kolapsnya keuangan Filipina, Walter menyatakan, hal itu hanya akan memberi dampak sementara dan tidak akan menjadi bencana bagi perekonomian kawasan, termasuk Indonesia.Harga Minyak Tetap TinggiSementara itu, Walter juga berpendapat, saat ini harga minyak dunia meskipun berpotensi untuk turun akan tetapi tetap berada dalam harga yang cukup tinggi, dimana untuk jenis light crude akan turun ke US$ 40 per barel, sementara brand crude bisa turun hingga US$ 35 per barel.Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan harga minyak tetap tinggi. Pertama, tingginya konsumsi minyak di tiga negara besar yakni India, Cina dan Amerika Serikat. Kedua, tingginya ketidakpastian di dua negara produsen terbesar yakni Arab Saudi dan Irak.Ketiga, terlalu optimisnya para pakar perminyakan yang menyebutkan harga minyak bisa turun ke US$ 30 per barel, sehingga banyak produsen minyak yang enggan menaikkan produksinya.
(ani/)











































