Ini Dia Kritik-kritik Membangun Ala Widjajono Si Pendaki Gunung

Ini Dia Kritik-kritik Membangun Ala Widjajono Si Pendaki Gunung

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Minggu, 22 Apr 2012 15:48 WIB
Ini Dia Kritik-kritik Membangun Ala Widjajono Si Pendaki Gunung
Jakarta -

Berpulangnya Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo meningggalkan sejumlah cerita. Kritikannya demi mewujudkan ketahanan energi nasional patut diteruskan, tidak hanya pada Kementerian ESDM namun seluruh masyarakat Indonesia.

Widjajono yang diketahui publik menjadi Wamen ESDM sejak 16 Oktober 2011 lalu, adalah sosok bersahaja di mata sahabat, rekan kerja bahkan Menteri ESDM Jero Wacik.

Tentu kita ingat usai pelantikan di Istana Negara 19 Oktober tahun lalu, Widjajono berjanji untuk mewujudkan energi murah dan tidak lagi mengandalkan Bahan Bakar Minyak (BBM). Bahkan sehari resmi setelah dilantik sebagai Wamen ESDM, Widjajono langsung membuat gebrakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satunya, kritikan kerasnya soal pengelolaan izin tambang yang tumpang tindih. Akibatnya Indonesia minim investasi.

"Kalau wilayah kerja migas kurang laku, masalahnya di Indonesia itu banyak. Ada masalah tanah, masalah izin, masalah tumpang tindih, kehutanan, cabotage, masalah di keuangan, dan juga fiskal term-nya. Di Indonesia itu, fiskal term-nya ditentukan sebelum investor melakukan eksplorasi dan memproduksi migas. Makanya banyak yang kurang berminat," jelas Widjajono waktu itu.

Ekplorasi di bidang energi, dimata Widjajono kurang berhasil. Dalam tulisannya, ia mengatakan; "Di Indonesia ada sindiran, 'Kalau bisa dipersulit kenapa tidak'. Izin kadang-kadang dipersulit dengan maksud supaya mendapat upeti sehingga biaya menjadi lebih mahal. Disamping itu Perusahaan Multinasional kebanyakan melarang penyogokan sehingga izin menjadi berlarut-larut," katanya.

Tak sampai disitu, kritikan Pak Wid juga menyasar pada kebijakan pengembangan nuklir. Untuk Indonesia, tenaga nuklir rawan mengalami kebocoran. "Indonesia saja bikin batubara belum beres, mau bikin nuklir. Kalau mau, kerjasama dengan Singapura bisa," tegasnya.

Kritikan Widjajono terkadang bikin telinga sejumlah pihak panas. Bahkan beberapa idenya justru berseberangan dengan rencana pengembangan energi dari pemerintah.

Dari kaca mata Widjajono, kunci mewujudkan ketahanan energi nasional adalah menciptakan energi yang pro rakyat. Banyak energi murah yang belum tergarap maskimal dan jumlahnya berlimpah.

Dengan hadirnya energi murah, rakyat tidak perlu lagi mengonsumsi BBM yang tergolong mahal. Hingga pada akhirnya, subsidi BBM bisa dikurangi. Kebijakan subsidi BBM selama ini, menurutnya, tidak tepat sasaran.

"BBM subsidi harusnya tepat sasaran. BBM itu kan disubsidi Rp 200 triliun jika dikurangi atau dihentikan, uang itu bisa dipakai untuk pembangunan," terangnya.

Atas dukungannya dalam pengurangan subsidi BBM, Pak Wid pernah mengusulkan agar premium naik jadi Rp 1.000 per liter. Meski usulan ini berpotensi menaikkan inflasi, Widjajono memiliki kiatnya, yakni penerapan sistem cash back kepada transportasi umum atau angkutan barang.

Menurut data yang dikutip dari ITB, Widjajono tercatat pernah tergabung sebagai Anggota Tim P3M (Pengawasan Peningkatan Produksi Migas) Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Penasehat Asosiasi Perusahaan Migas (Aspermigas), serta Kaukus Migas Nasional Ikatan ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI).

Hingga saat ini, Widjajono telah menulis dua buah buku yakni Memahami Pembangunan dan Analisis Kebijakan (2004) dan Manajemen dan Ekonomi Minyak dan Gas Bumi (2002).

(wep/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads