Kematian Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo di lereng Gunung Tambora, NTB pekan lalu masih menyisakan tanda tanya. Terutama bagaimana detik-detik terakhir sang Guru Besar ITB itu menghembuskan nafasnya.
Staf Widjajono yang bernama Pudji menceritakan hari-hari terakhirnya bersama Widjajono di Gunung Tambora.
Pudji sudah sekian lama dikenal sebagai salah satu orang kepercayaan Widjajono, sebelum menjabat sebagai Wamen ESDM dirinya sudah mendampingi Widjajono saat masih aktif mengajar di ITB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pak Wid sangat mempersiapkan diri, tidak hanya persiapan segala kebutuhan saat di Tambora nanti, tapi fisik beliau dipersiapkan juga," kata Pudji di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (25/4/2012).
Widjajono diungkapkannya rutin melatih fisik setiap minggu di kawasan stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. "Rutin latihan fisik, ada pelatihnya pula, sebelumnya saya tidak tahu kalau mau naik gunung juga harus ada persiapan fisiknya," ujarnya.
Dalam perjalalan ke kawasan Gunung Tambora, setelah berkumpul di Hotel, kemudian jam 12.00 malam rombongan bergerak menuju puncak Tambora. "Intinya pada saat sunrise (matahari terbit) di puncak Tambora rombongan sudah sampai. Namun jalur yang dilewati berbeda dari biasanya yakni jalur Pancasila," ucap Pudji.
Ia menuturkan dalam pendakian malam itu, perjalanan ke Puncak Gunung Tambora tak ada gangguan. Meskipun perjalanan kali ini ada sedikit lebih lambat karena Widjajono sering istirahat selama perjalanan.
"Istirahat kadang tidak hanya duduk, tapi kadang tidur. Tapi setelah istirahat Pak Wid jalannya cukup cepat, lancar tapi tidak lama istirahat lagi," ujarnya.
Target mencapai puncak Tambora untuk mengejar sunrise akhirnya meleset, hal ini karena rombongan terlalu banyak beristihat, saat sunrise muncul rombongan masih dalam perjalanan alias belum mencapai puncak.
"Setelah istirahat, puncak Tambora tinggal sekitar 30 meter lagi, teman cameraman (TV One) sudah standby di puncak gunung untuk wawancara di puncak Tambora, tiba-tiba Pak Wid seperti tersentak, disitulah radio komunikasi ramai," ungkapnya.
"Yang diatas, informasi SOS, posisi di koordinat sekian, SOS. Sontak saja keadaan menjadi ramai dan panik, radio komunikasi tidak henti-hentinya berbunyi menanyakan status Pak Wid," kata Pudji.
Seharusnya katanya, sudah dapat instruksi SOS itu tidak perlu harus saling lempar pertanyaan, hal tersebut memboros baterai HT yang dapat menimbulkan masalah baru.
"Pada saat itu ramai sekali pembicaraan di radio, seharusnya kalau sudah ada instruksi SOS yang dioptimalkan bagaimana secapatnya melakukan evakuasi, khususnya mengirim helikopter," ucapnya.
Namun, Helikopter pun yang datang untuk melakukan evakuasi gagal melakukan tugasnya, tebalnya kabut membuat Helikopter tidak bisa mendarat.
"Diinstruksikan turun ke Pos III dan mencari daerah yang cukup luas agar bisa didarati Helikopter, namun untuk jalan ke bawah sendirian pun cukup sulit dan membutuhkan waktu, dan ini kami harus menandu Pak Wid dengan menggunakan sarung yang ada dengan tiang pancang bendera yang dipatahkan," tuturnya.
Namun takdir berkata lain, nyawa Widjajono tidak dapat diselamatkan, sekitar pukul 09.30 WITA setempat diperkirakan Widjajono menghenbuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan menuju Pos III.
"Itupun setelah mendapatkan lokasi yang pas, Halikopter tidak bisa mendapat juga, katanya ada instruksi yang tidak mengizinkan untuk melakukan pendaratan disana," ungkapnya.
(rrd/hen)










































