Dalam laporannya kepada US Securities & Exchange Commission kemarin, GM menyebutkan laba tahunan mereka melonjak hingga 62%, seperti dilansir dari CNBC (27/4/2012). Peningkatan ini didukung oleh penjualan global GM yang kembali berjaya bahkan melebihi produsen otomotif lainnya di dunia.
GM juga berhasil mencapai kesepakatan dengan para buruh melalui serikat United Auto Workers. Hal ini membantu GM mempertahankan level break-even rendahnya. Namun peningkatan profit tidak diikuti oleh kinerja saham GM yang malah melorot sebanyak 45% di tahun 2011.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun melalui pengukuran obyektif hasil kami di 2011 menunjukkan perbaikan dibanding 2010, itu tidak bisa dibandingkan dengan beberapa pesaing utama kami. Hal ini sebagian tercermin dalam harga saham umum kami," tulis GM dalam laporannya.
Penurunan harga saham GM sebanyak US$ 1,9 juta (Rp 17,3 miliar) tahun lalu juga berdampak pada kompensasi Akerson yang perhitungannya berbasis saham. Kompensasi Akerson diatur oleh sebuah pay master khusus dari pemerintahan federal. Ini merupakan bagian dari ketentuan yang diberlakukan setelah restrukturisasi kebangkrutan GM yang didanai pemerintah Amerika Serikat.
Menurut peraturan pemerintah federal, Akerson bisa memperoleh bayaran maksimal US$ 9 juta (Rp 81,9 miliar) dalam bentuk tunai dan saham. Unit saham terbatas yang diterimanya di tahun 2011 merupakan cerminan performa Akerson pada 2010 saat dia masih menjabat sebagai direktur, bukan CEO. Akerson mulai menjabat sebagai CEO sejak September 2010. Pada tahun 2010, kompensasi Akerson mencapai sekitar US$ 2,5 juta (Rp 22,75 miliar).
(ang/ang)










































