Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 29 Apr 2012 18:02 WIB

Dahlan Iskan: Jaman Pak Harto Atasnya Mulus Tapi Bawahnya?

- detikFinance
Jakarta - Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta seluruh lapisan masyarakat ikut mendorong perekonomian RI dengan mendukung kebijakan pemerintah. Mantan Dirut PLN ini percaya RI bakal terus maju kedepan siapapun Presidennya.

"Misalnya jaman Pak Harto (Presiden Soeharto) semuanya mulus, padahal mulusnya diatas karpet, dibawahnya kotor. Beda jaman reformasi, karpetnya di buka, sehingga semuanya kelihatan aslinya," kata Dahlan.

Ia menyampaikan hal ini di depan para mahasiswa dalam sebuah kuliah umum di Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon, Minggu (29/4/2012).

Menurut Dahlan pemerintahan orde baru terkesan menutupi segala sesuatnya sehingga kebijakan yang diambil pemerintahan ketika itu terlihat berjalan sempurna. Namun tidak lagi ketika masuk jaman reformasi.

"Ini dialami sejak 1998 yang lalu. Karena banyaknya sampah di bawah karpet, makanya perlu waktu yang lama untuk membersihkannya. Kenapa?," ungkap Dahlan.

"Kedepan Indonesia makin maju, karena kedepan semuanya kelihatan dan tidak ada yang disembunyikan lagi," jelas Dahlan.

Lebih jauh Dahlan membandingkan antara Indonesia dengan Malaysia. Negeri Jiran tersebut dipandang Dahlan masih menggunakan 'karpet' ketika RI di orde baru dahulu.

"Maka kita tidak tahu bagaimana Malaysia kedepan, karena Dia msh pakai karpet. Lalu siapa mahasiswa yang umurnya dibawah 20 tahun? nanti 10 tahun lagi saat anda berumur 30 tahun ekonomi Indonesia itu akan tumbuh tiga kali lipat," papar Dahlan.

"Oleh karena itu perlu siap-siap. Beda jaman orde baru, yang ekonomi atau rejeki itu sudah ditentukan untuk siapa saja," jelasnya.

Dahlan menilai setiap masyarakat kini mendapatkan kesempatan yang sama. "Tidak ada lagi beking. Makanya mahasiswa mulai menentukan sikap apa ingin jadi pengusaha, politikus, hakim," tutur Dahlan.

"Tapi saran saya jadilah pengusaha, karena rejeki yang besar akan jatuh kepada pengusaha. Bukan kepada birokrat. Jadi pengusaha tidak bisa dididik, tapi bisa ditularkan. Selaini itu harus dengan pengalaman dan pernah gagal," tutup Dahlan.

(dru/nia)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com