Tembus Rekor, 17,3 Juta Orang Nganggur di Eropa

Tembus Rekor, 17,3 Juta Orang Nganggur di Eropa

Metta Pranata - detikFinance
Kamis, 03 Mei 2012 11:09 WIB
Tembus Rekor, 17,3 Juta Orang Nganggur di Eropa
Brussels - Perekonomian zona Eropa yang terus melemah membuat angka pengangguran menembus rekor tertinggi, yakni 10,9% pada Maret lalu. Menurut data Eurostat, per akhir Maret hampir 17,37 juta pria dan wanita di Eropa kini tak punya pekerjaan. Angka itu mengalami kenaikan 169.000 dibanding bulan Februari.

Fakta ini menunjukkan adanya harapan dan tekanan kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan pertumbuhan ekonomi daripada program penghematan anggaran. Industri manufaktur 17 negara Uni Eropa juga terpuruk ke titik terendah hampir tiga tahun berturut-turut akibat kenaikan pajak dan pengurangan belanja yang mendorong mereka ke arah resesi.

The Markit Purchasing Managers' Index merosot tajam dari 47,7 menjadi 45,9 di bulan Maret, menjadi sinyal adanya kontraksi di sektor manufaktur untuk 9 bulan berturut-turut. “Manufaktur di zona Eropa makin terpuruk ke dalam resesi baru April ini. PMI memperkirakan ada penurunan output yang mengkhawatirkan, hingga di atas 2,0%,” kata ekonom utama Markit, Chris Williamson seperti dilansir dari AFP (3/5/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kebijakan penghematan anggaran di negara yang sedang bergulat dengan defisit melipatgandakan dampak pada permintaan di seluruh regional. Sementara, output manufaktur Jerman saja mulai menunjukkan penurunan,” kata Williamson.

Capital Economics mengatakan, angka pengangguran dan manufaktur menekankan inilah tantangan baru bagi para pembuat kebijakan. Mereka harus menjawab peningkatan permintaan akan pertumbuhan ekonomi di seluruh Eropa.

Ditekankan pula, meski negara-negara di area selatan Eropa yang paling merasakan dampak buruk krisis dengan angka pengangguran Spanyol mencapai 24,1%, ada tanda-tanda negara yang lebih kuat seperti Jerman juga akan kena imbasnya sebentar lagi.

Powerhouse Eropa ini mengaku 'hanya' memiliki angka pengangguran 5,6% di bulan Maret, namun ada kenaikan sebanyak 19.000 untuk yang kedua kalinya dalam 25 bulan. Dengan jumlah pengangguran yang terus meningkat dan terpuruknya industri, tampaknya tak lama lagi Jerman akan didera resesi.

Aksi demo May Day di seluruh Eropa pada Selasa kemarin mengangkat tema supaya pemerintah fokus menambah lapangan pekerjaan sebagai langkah terbaik keluar dari krisis. Menurut para demonstran, terlalu banyak pemangkasan sebagai bagian dari program penghematan anggaran negara hanya memperburuk masalah.

Sony Kapoor, kepala Re-Define mengatakan data baru-baru ini mengonfirmasi kalau krisis zona Eropa semakin dalam dan para pemimpin negara harus segera merubah strategi. “Pertanyaannya adalah sampai kapan para pemimpin Uni Eropa melanjutkan strategi penuh cacat di hadapan bukti-bukti yang makin menggunung bahwa keputusan mereka mengarahkan kita pada bencana sosial, ekonomi dan politik,” kata Kapoor.

Dia mengatakan, kebijakan penghematan anggaran tidak bisa diterapkan pada seluruh negara Uni Eropa. Dia juga minta segera diadakan pakta pertumbuhan yang lebih dibutuhkan dari apa pun juga demi mencegah kemerosotan ekonomi, kenaikan tingkat pengangguran dan sistem perbankan yang terus melemah seperti sekarang.

Kepala Bank Sentral Eropa, Mario Draghi baru-baru ini menyebutkan pakta pertumbuhan akan disandingkan dengan peringkasan fiskal yang telah disetujui awal tahun ini untuk memperketat disiplin fiskal di seluruh Uni Eropa.

Namun Draghi masih berhati-hati dan menekankan bahwa pakta pertumbuhan itu tidak bisa berdasar pada stimulus belanja tambahan dan lebih bergantung pada reformasi struktural–sebuah poin yang dibuat kanselir Jerman, Angela Merkel.

Merkel bersikeras bahwa peringkasan fiskal tidak bisa dinegosiasi ulang seperti yang disarankan oleh calon presiden sosialis Perancis, Francois Hollande. Namun dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi akan masuk agenda pertemuan akbar Uni Eropa di bulan Juni.

Kontroversi mengenai penghematan dan pertumbuhan di Uni Eropa diperkirakan akan jadi topik utama debat televisi antara calon presiden Hollande dan Nicolas Sarkozy Rabu malam sebelum voting final Pilpres Perancis Minggu besok.

(ang/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads