"Harus dijaga betul beras ini. Harga beras naik trus. Suplai ada terus tapi harga naik. Kalau produksi berkurang, baru harga naik. Belum ada antrean beras. Presiden menekankan betul pentingnya pangan," ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (9/5/2012).
Selain menekankan tentang masalah distribusi dan harga beras, Suswono juga menyoroti persoalan perubahan iklim akibat dampak pemanasan global sebagai ancaman serius terhadap produksi beras nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guna meningkatkan ketersedian pasokan beras nasional, Suswono mengungkapkan penambahan sawah baru sebagai solusi untuk meningkatkan pasokan beras.
"Peningkatan produktivitas, ini yang jadi prioritas, lahan-lahan yang ada masih bisa ditingkatkan. Kita harus memperluas areal. Mau tidak mau, maka menambah, mencetak sawah 100 ribu hektar, oleh karena itu tahun ini mencetak 100 ribu hektar. Tetap tidak kalah penting, konsumsi tadi. Mau tidak mau ini juga harus dilakukan,"sambungnya.
Selain meningkatkan luas lahan persawahan untuk meningkatkan pasokan beras, Suswono juga akan menggencarkan sosialisasi makanan sagu sebagai makanan pelengkap dan pengganti beras.
Kita punya pangan yang melimpah, sagu luar biasa, itu belum diapa-apakan, artinya kalau itu didayagunakan, Meneg BUMN membangun pabrik sagu di Papua, ini cadangan pangan sangat luar biasa," sebutnya.
Terkait larangan impor produk hewan dari Amerika Serikat pada 24 April terkait penyakit sapi gila di California, Suswono menegaskan Indonesia masih belum menerima pejelasan ilmiah dari Kementerian Pertanian Amerika Serikat bahwa produk daging sapi dari Amerika telah bebas dari penyakit sapi gila.
"Belum ada scientific evidence (bukti-bukti ilmiah) dari AS, sepanjang ada scientific evidence, pengendalian seperti itu, tidak masalah, masih berlaku. Pihak AS belum menyampaikan," tutupnya.
(feb/hen)











































