Pengusaha Elektronik Minta Pemerintah Stabilkan Nilai Tukar
Sabtu, 14 Agu 2004 13:00 WIB
Jakarta - Pemerintah diharapkan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini penting agar dunia usaha memiliki kepastian. Pelemahan rupiah telah menyebabkan turunnya omzet penjualan industri elektronik hingga 20 sampai 30 persen.Demikian disampaikan Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik Indonesia Lee Kang Hyun di Jakarta, Sabtu (14/8/2004) menanggapi pidato presiden tentang nota keuangan pada Senin (16/8/2004)."Pemerintah harus menjaga stabilitas nilai tukar karena pada Mei sampai Juli kemarin rupiah melemah yang mengakibatkan penjualan IT turun 20 sampai 30 persen," kata dia.Lee berharap pemerintah dapat memberikan stimulus yang mampu menggerakkan sektor riil termasuk mendorong investasi. Menurut Lee, hingga semester satu 2004 investasi terutama di bidang elektronik masih nol. Pasalnya, pelaku usaha masih melakukan wait and see sampai terpilihnya presiden baru.Demikian juga yang dialami PT Samsung Indonesia yang saat ini ekspansi usahanya juga tidak terlalu signifikan. Presiden Megawati pada Senin (16/8/2004) akan mengumumkan nota keuangan dan RAPBN 2005. Pada tahun depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen, nilai tukar rupiah antara Rp 8.000 hingga Rp 9.000, suku bunga SBI 7 persen, tingkat inflansi 5,5 hingga 6 persen dan harga minyak dunia 24 US$ per barel.
(aan/)











































