Stok Utang RI 2005 Diprediksi jadi 55% dari PDB
Senin, 16 Agu 2004 11:50 WIB
Jakarta - Pemerintah memperkirakan stok utang pada tahun 2005 akan turun menjadi 55 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dibandingkan 60,1 persen pada tahun 2004. Asumsi penurunan utang ini sudah tidak memperhitungkan adanya penjadwalan ulang.Demikian pidato Presiden Megawati Soekarnoputri saat menyampaikan Rancangan Undang-undangan (RUU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Nota Keuangan 2005 di hadapan sidang paripurna DPR, Senin (16/8/2004).Dalam pidatonya, Presiden juga menyampaikan sejumlah asumsi makro ekonomi tahun 2005. Untuk pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 5,4 persen, yang akan ditopang peningkatan konsumsi dalam negeri, di samping peningkatan ekspor dan membaiknya gairah investasi.Penyusunan RAPBN 2005, lanjut Presiden, juga telah memperhatikan kondisi perekonomian di negara-negara maju, terutama Amerika Serikat (AS) dan Eropa, yang masih cukup kuat.Perekonomian negara-negara industri maju diperkirakan tumbuh sekitar 3,1 persen, dengan perekonomian AS sebagai motor penggerak utamanya yang diperkirakan tumbuh 3,9 persen. Adapun perekonomian negara-negara berkembang pada tahun 2005 diperkirakan tumbuh 5,9 persen dengan perekonomian Asia, terutama Cina, sebagai penggeraknya.Sementara itu, soal asumsi makro lainnya seperti nilai tukar rupiah diperkirakan akan stabil dalam kisaran Rp 8.600 per dolar, laju inflasi sebesar 5,5 persen, tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 6,5 persen.Sedangkan asumsi harga minyak akan ditetapkan berdasarkan prinsip kehati-hatian, dimana produksi minyak Indonesia pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 1,125 juta barel per hari. Sebelumnya, Menteri Keuangan Boediono sempat menyebut asumsi harga minyak diperkirakan US$ 24 per barel.Adapun defisit anggaran direncanakan Rp 16,9 triliun atau 0,8 persen dari PDB. Angka ini lebih rendah dari sasaran defisit dalam APBN 2004 yang mencapai Rp 24,4 triliun atau 1,2 persen dari PDB."Penurunan besaran defisit dan rasionya terhadap PDB ini mencerminkan kesungguhan dan komitmen pemerintah dalam melanjutkan program dan langkah-langkah konsolidasi fiskal untuk memantapkan upaya peningkatan ketahanan fiskal yang berkelanjutan," demikian pidato Presiden Megawati.
(ani/)











































