"Selain minyak, Kazakhstan juga penghasil gandum dan kapas terbesar dimana produksinya berlimpah," ungkap Vice Chairman Kadin Indonesia Komite Rusia dan CIS, Zamharir Radhi ketika ditemui di Astana, Kazakhstan, Senin (21/5/2012).
Kadin melihat, impor gandum Indonesia masih didominasi salah satu perusahaan swasta melalui Selandia Baru dan AS. Zamharir berharap dengan bekerjasama melalui pemerintah Kazakhstan, impor gandum bisa berlimpah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perwakilan Delegasi RI dari Kementerian Luar Negeri yang menangani Ekonomi Asia Selatan dan Tengah, Bakhtiar menyampaikan gandum asal Kazakhstan merupakan salah satu yang terenak di dunia.
"Kazakhstan itu penghasil gandum terenak di dunia setelah AS dan Selandia Baru," jelasnya.
Ia mengatakan, untuk tahapan pertama kerjasama RI dan Kazakhstan yakni memproses distribusi gandum tersebut ke RI. "Jadi dilihat lebih jauh bagaimana proses pengiriman termasuk pajak," tuturnya.
Seperti diketahui, Kazakhstan merupakan negara Republik pimpinan Presiden Nursultan A Nazarbayev dimana telah bekerjasama dengan RI sejak 1993.
Komoditi ekspor yang dihasilkan yakni minyak dan gas 59%, metal 19%, bahan kimia 5%, mesin-mesin 3%. Selain itu ada pula gandum, wool, daging dan batubara.
Adapun volume perdagangan Indonesia-Kazakhstan mencapai US$ 33,15 juta yang terdiri dari ekspor US$ 8,16 juta dan impor US$ 24,98 juta.
Menteri Perekonomian Hatta Rajasa mendukung kerjasama impor gandum ini. "Kekuatan negara ini yang bisa dimanfaatkan adalah bidang kapas dan gandum, dua tersebut yang tidak kita punya," ungkap Hatta.
Lebih jauh Hatta mengharapkan kerjasama ini bukan hanya dibuktikan oleh MoU saja namun realisasi langsung soal impor tersebut.
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, khusus untuk industri kapas ternyata asosiasi lebih banyak impor dari negara yang justru bukan penghasil kapas.
"Jadi dari trader juga seperti Australia. Harusnya melalui Kazakhstan ini bisa lebih murah harga kapasnya," ungkap Hidayat.
"Kapas itu 100% benar-benar impor untuk itu kita cari negara penghasil seperti Kazakhstan," imbuhnya.
Menurut Hidayat impor kapas Indonesia mencapai 500-600 ribu ton yang nilainya mencapai US$ 1 miliar. "Oleh karena itu dibicarakan lebih jauh agar konkrit tidak hanya MoU saja namun realisasi," tutup Hidayat.
(dru/dnl)











































