Hal ini disampaikan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa kepada detikFinance ketika di sela kunjungannya ke Astana, Kazakhstan, Rabu (23/5/2012).
"Krisis Eropa tidak bisa dianggap enteng. Krisis keuangan Yunani diperkeruh oleh situasi politik dan menurunnya rating di beberapa negara serta melemahnya mata uang euro dan kepercayaan pasar finansial yang menurun bisa membuat krisis keuangan pemicu krisis ekonomi," tutur Hatta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dana akan banyak tersedot ke perbankan Eropa yang mengalami krisis likuiditas. Namun kita agak optimistis dengan adanya stimulus dari negara-negara G8," jelasnya.
Saat ini kemampuan keuangan dari negara besar di Eropa seperti di Jerman dan Prancis sangat terbatas yang menyebabkan ekonomi terhambat. Belum lagi Amerika Serikat masih mempunyai PR besar untuk menggenjot ekonomi dan pengangguran.
Hatta menyatakan ada beberapa hal yang akan dikerjakan pemerintah agar Indonesia bisa kebal dari dampak krisis ekonomi yang terjadi di Eropa.
"Pertama adalah koordinasi fiskal dan moneter yang penting. Agar rupiah stabil, inflasi terjaga, dan memelihara momentum investasi serta neraca pembayaran," kata Hatta.
Lalu kedua, menjaga APBN tetap sehat dan mengurangi belanja tidak perlu. "Fokus belanja modal infrastruktur, mencegah kebocoran (anggaran), dan meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP)," imbuhnya.
Ketiga, lanjut Hatta, pemerintah akan memperluas negara tujuan ekspor dan meningkatkan pasar di dalam negeri serta mencegah impor meningkat tajam.
"Tingkatkan tabungan masyarakat karena kita kecil sekali menabung, cuma 32% dari PDB, atau paling kecil dibandingkan negara lain. Ini salah satu faktor pembiayaan bersumber dalam negeri sangat terbatas," papar Hatta.
Pemerintah juga berkomitmen untuk menurunkan utang, kecuali pemerintah membutuhkan pendanaan untuk melakukan stimulus ekonomi di tengah ancaman krisis dari Eropa.
"Keempat, banyak bekerja, jangan banyak bicara dan berpolemik yang tidak perlu," tegasnya.
(dnl/ang)











































