Harga Minyak RAPBN 2005 US$ 24 per Barel

Harga Minyak RAPBN 2005 US$ 24 per Barel

- detikFinance
Senin, 16 Agu 2004 16:03 WIB
Jakarta - Pemerintah memastikan patokan harga minyak dalam RAPBN 2005 sebesar US$ 24 per barel. Angka tersebut sudah disepakati sebelumnya oleh pemerintah dan DPR karena dinilai sangat realistis."Sudah kesepakatan kita kalau harga minyak US$ 24 per barel. Itu akan digunakan dalam RAPBN 2005 dan sudah cukup konservatif karena kita tidak ada yang tahu berapa harga minyak pada tahun depan. Yang pasti, DPR meminta pemerintah berhati-hati dalam menentukannya," ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Boediono dalam keterangan persnya di Depkeu, Jakarta Pusat, Senin (16/8/2004). Menurut Boediono, tidak dicantumkannya asumsi harga minyak dalam nota keuangan yang disampaikan Presiden dalam sidang paripurna DPR tadi hanya masalah teknis semata. Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro menambahkan, angka US$ 24 per barel masih berada dalam rentang harga yang ditetapkan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) sebesar US$ 22-28 per barel. Diperkirakan, harga minyak akan kembali ke posisi normal jika masalah-masalah geo politik seperti referendum di Venezuela dan kebangkrutan perusahaan minyak terbesar Rusia, Yukos, telah berakhir."Toh kalaupun ada apa, pemerintah tetap bisa melakukan penyesuaian untuk RAPBN 2005. Tapi bagaimanapun, jika kondisi sudah normal kembali, saya yakin harga minyak akan berada di kisaran patokan OPEC," tutur Purnomo, yang juga menjabat presiden OPEC.Sementara, mengenai produksi minyak dalam RAPBN 2005 sebesar 1,125 juta barel per hari, Purnomo optimis target itu bisa dicapai. Pasalnya, terdapat sejumlah lapangan-lapangan minyak baru yang akan dikembangkan. Selain itu, tambahan produksi diharapkan akan bertambah dari lapangan West Seno di Kalimantan Timur dan lapangan Belanak di Laut Cina Selatan."Jadi kita optimis angka produksi itu bisa dicapai. Produksi minyak kita sekarang saja rata-rata berada di kisaran 1,1 juta barel per hari, termasuk kondensat," ungkap Purnomo Yusgiantoro. (ani/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads