Data Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) menunjukkan, Jepang telah mengimpor 55 ribu ton kopi lokal senilai US$ 161,101 juta. Sementara AS mencatat volume impor kopi 45.118 ton senilai US$ 252,001 juta.
Wakil Ketua Umum Bidang Bina Tani Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia, Salmi Saleh mengatakan, nilai transaksi AS memang lebih tinggi meski volumenya jauh lebih rendah. AS mampu menghargai kopi Indonesia jauh lebih mahal, atau sekitar US$ 52 per ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara angkanya turun. Artinya ada perbaikan harga khususnya harga Arabika, yang mencapai US$ 8 per ton," ungkapnya.
Untuk keseluruhan ekspor, Salmi mengungkapkan Indonesia telah mencatatkan sejarah dengan pencapaian ekspor menembus angka US$ 1 miliar lebih. "Belum pernah terjadi ekspor 2011 mencapai angka 1 M," terangnya.
Tahun ini, pelaku industri kopi mengharapkan pertumbuhan nilai ekspor kembali terjadi. Pertumbuhan ekspor ditargetkan menembus angka US$ 1,2 miliar.
Saat ini, data mencatat produksi kopi Indonesia mencapai 700 ribu ton per tahun, mencakup 140 ribu ton untuk Kopi Arabika dan 560 untuk Kopi Robusta. "Tahun ini ditargetkan produksi mencapai 900 ribu ton, 180 ribu ton untuk Arabika, sisanya Robusta," tutupnya.
(zlf/wep)










































