Wah, Dahlan Iskan Kembangkan ATC 3 Dimensi Buatan Lokal

Wah, Dahlan Iskan Kembangkan ATC 3 Dimensi Buatan Lokal

Zaenal Effendi - detikFinance
Kamis, 31 Mei 2012 10:38 WIB
Wah, Dahlan Iskan Kembangkan ATC 3 Dimensi Buatan Lokal
Surabaya - Menteri BUMN Dahlan Iskan menemukan sekelompok anak muda yang menciptakan radar Air Traffic Controller (ATC) 3 dimensi. Dirinya meminta para ahli segera menguji kelayakannya.

Ini terkait uzurnya peralatan Air Traffic Controller (ATC) yang dimiliki bandara di Indonesia saat ini yang rata-rata berumur 15 tahun lebih dan belum diganti.

Menurut Dahlan, ATC yang diciptakan sekelompok pemuda ini tidak hanya mampu melihat posisi pesawat tapi juga mampu melihat kondisi sekitar seperti gunung dan sungai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Alat baru ini 3 dimensi, tidak hanya lihat pesawat tapi bisa lihat medan sekitarnya seperti ada gunung dan sungai. Bahkan yang sekarang delay capai 12 detik yang ini hanya 2 detik. Peralatan ATC ini dari anak bangsa. Dari kecanggihannya jauh lebih canggih dari yang sekarang," jelasnya saat ditemui wartawan di Convention Hall Surabaya, Kamis (31/5/2012).

Namun kata Dahlan, radar ATC ciptaan anak bangsa ini masih membutuhkan percaya diri dan tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia juga meminta, jika nantinya jadi beli, Dahlan berharap agar dihargai sesuai dengan hasil dan kinerja yang dicapai para pembuat alat tersebut.

"Sebaiknya diuji oleh para ahli dengan ujian yang objektif. Jangan latar belakangnya kalau beli dari anak bangsa murah maka komisinya sedikit, nanti kalau impor dari luar negeri harganya mahal mesti komisinya besar. Jangan begitulah," tegasnya.

Alat ini, kata Dahlan, merupakan ciptaan dari gabungan anak muda yang berlatarbelakang dari pegawai ATC, praktisi, ahli komputer, serta pilot. "Makanya saya ingin itu diuji secara objektif. Kalaui sekarang baru saya yang melihat dan saya bukan ahlinya tidak bisa menilai. Ini sudah jadi bukan prototype," ujarnya.

Ditanya lebih lanjut apakah akan diproduksi secara massal dan akan dibeli? "Diterima dulu oleh para ahli di Indonesia dan itu kewenangan Menteri Perhubungan kalau membeli," pungkas Dahlan.

(ze/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads