Menurut data Departemen Kehakiman, pada 2011 jumlah pekerja asing legal di Brasil melonjak 57% menjadi 1,51 juta. Sebagian besar adalah profesional muda dari Amerika Serikat, Portugal dan Spanyol. Mereka tergiur dengan booming-nya pasar konsumen Brasil dan cepatnya perkembangan sektor konstruksi sementara ekonomi negara asalnya melemah.
Tahun ini Brasil berhasil menumbangkan Inggris sebagai negara berekonomi terbesar keenam di dunia. Keberhasilan ini didukung terutama oleh pesatnya pertumbuhan konsumsi domestik seiring jutaan warga meninggalkan kemiskinan dan naik ke kelas menengah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka pengangguran di Brasil mencapai titik terendah dalam sejarah, berada di kisaran 6% dan buruh berkualifikasi kerap sulit dicari. “Tingkat pertumbuhan konstruksi sangat luar biasa di sini. Sektor perumahan sangat kurang berkembang dan masih ada sisa beberapa tahun untuk bertumbuh,” kata Serrano.
Faktanya, pasar hipotek Brasil mewakili hanya 5% dari gross domestic product (GDP) negara, dibandingkan dengan negara berkembang lain yang melampaui 50%. Tapi Serrano juga harus berkorban karena biaya perumahan di areanya melejit gila-gilaan.
Di apartemen tempat dia tinggal bersama tiga arsitek Brasil lainnya, Serrano harus memotong jalan dapur untuk mengakses kamar tidurnya yang dulu berfungsi sebagai kamar pembantu dan besarnya tak lebih dari sebuah lemari baju. “Saya hanya pakai ruangan itu untuk tidur. Anda tidak bisa melakukan hal lain di dalam situ.”
Kaum profesional Amerika juga ramai-ramai migrasi ke Selatan, tergiur oleh gaji kompetitif dan lingkungan kerja yang lebih hidup. Josh Livingstone, pria asli New York pindah ke Sao Paulo untuk kerja di sebuah bank internasional.
“Di sini jauh lebih menyenangkan. Anda merasakan energinya. Di tempat saya kerja sekarang juga akan banyak merger dan akuisisi,” kata Livingstone sembari minum bir bersama rekan-rekan sesama ekspatriat di sebuar bar lokal.
Pertumbuhan ekonomi di Brasil berhasil mencapai rekor tertingginya 7.5% pada 2010, tapi tahun ini terus bergejolak dan baru mencapai 3%. Banyak sektor ekonomi yang sedang kesulitan. Hidup di Sao Paulo yang dihuni sekitar 20 juta orang juga punya kekurangan tersendiri.
Pendatang baru mengeluhkan parahnya kemacetan lalu lintas, sering cuaca buruk dan tingginya harga-harga. “Saya datang ke sini berharap bisa menabung. Tapi setelah dihitung-hitung, sepertinya pengeluaran saya justru lebih tinggi 20% dibanding sewaktu di New York,” kata Livingstone.
Ekonomi Brasil yang sedang bullish juga menimbulkan migrasi terbalik. Banyak orang Brazil yang dulu pergi ke Portugal, Jepang dan AS untuk mencari kehidupan lebih baik, pulang kampung. Keluarga Jonathan Assayag bermigrasi ke Miami pada 1992 saat dia masih kanak-kanak.
“Dulu (keadaannya) sangat berat dan bisnis yang akhirnya dibuat orangtua saya karena dirasa paling masuk akal bagi mereka adalah toko 99 sen,” kata Assayag. Lulusan Harvard Business School ini mencoba merintis start-up di Silicon Valley, tapi akhirnya dia menyimpulkan kalau Brasil lebih masuk akal.
“Reaksi pertama di pikiran saya adalah, setelah semua kerja keras yang dilakukan keluarga saya untuk datang ke sini (AS), segala yang kami perjuangkan, dan sekarang saya mau kembali? Hati ibu saya akan hancur,” kata Assayag. Sejak kembali ke Sao Paulo tahun lalu, Assayag telah meluncurkan sebuah start-up internet, bisnis kacamata online yang akan beroperasi penuh dalam beberapa bulan mendatang.
(dru/dru)











































