Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Jumat (1/6/2012).
"Jadi secara kumulatif (Januari-April 2012) masih surplus tapi mulai menipis, ini warning karena krisis global. Tapi diharapkan bisa surplus kembali," pungkasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Baik migas maupun non migas mengalami penurunan, migas mengalami penurunan 3,56% dari US$ 3,49 miliar di Maret 2012, menjadi US$ 3,36 miliar. Sedangkan non migas turun dari US$ 13,77 miliar pada Maret menjadi US$ 12,62 miliar," ujar Suryamin.
Secara total Januari-April 2012, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 64,5 miliar atau tetap mengalami kenaikan sebesar 4,13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Untuk non migas senilai US$ 51,15 miliar atau naik 2,25% year on year," ujarnya.
Ekspor terbesar masih komoditas bahan bakar mineral untuk April 2012 senilai US$ 9,29 miliar dan lemak serta minyak hewan/nabati senilai US$ 7,52 miliar.
Suryamin menyebutkan, negara tujuan ekspor terbesar Indonesia masih didominasi China US$ 7,04 miliar, Jepang US$ 5,74 miliar, dan Amerika Serikat US$ 4,8 miliar. Ekspor non migas ke ASEAN sebesar US$ 10,36 miliar atau 20,25%, dan Uni Eropa sebesar US$ 6,06 miliar.
Sementara untuk impor April 2012, Suryamin menyatakan terjadi kenaikan 11,65% dibandingkan April 2011 menjadi US$ 16,62 miliar, atau naik 1,82% dibandingkan Maret 2012.
Impor migas menurun 0,59% dari US$ 4 miliar menjadi US$ 3,99 miliar, dan non migas naik 2,6% dari US$ 12,32 miliar menjadi US$ 12,64 miliar.
Total impor Januari-April 2012 sebesar US$ 62,37 miliar atau naik 16,18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk impor non migas, nilainya US$ 47,86 miliar atau naik 15,79% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Impor terbesar Indonesia adalah mesin dan peralatan mekanik US$ 8,94 miliar, dan mesin dan peralatan listrik US$ 6,1 miliar.
Impor terbesar dari negara China US$ 9,09 miliar, Jepang US$ 7,72 miliar, dan Thailand US$ 3,57 miliar dengan pangsa pasar ketiga negara tersebut sebesar 42,58%. ASEAN senilai US$ 10,35 miliar dengan pangsa pasar 21,63% dan Uni Eropa sebesar US$ 4,24 miliar dengan pangsa pasar 8,87%.
(dnl/ang)











































