Dituding Mainkan Diskon, Ini Tanggapan Bos Jakarta Great Sale

Dituding Mainkan Diskon, Ini Tanggapan Bos Jakarta Great Sale

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Minggu, 03 Jun 2012 18:46 WIB
Dituding Mainkan Diskon, Ini Tanggapan Bos Jakarta Great Sale
Jakarta -

Pengusaha ritel gerah dengan tudingan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terkait anggapan permainan diskon harga di bidang ritel seperti di pusat perbelanjaan.

Peritel meminta YLKI membuktikan tudingan mereka terhadap adanya praktik penerapan diskon yang dianggap menipu konsumen.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta, yang juga Sekjen Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Handaka Santosa tak terima dengan tudingan YLKI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apalagi saat ini pihaknya sedang mendorong konsumen dalam negeri aktif dalam hajatan Festival Jakarta Great Sale (FJGS) 2012. Jangan hanya berbelanja ke luar negeri seperti The Great Singapore Sale.

"Kalau orang yang sudah biasa belanja sudah tahu lah. Jangan anggap konsumen seperti anak kecil lah. Kalau anggota APPBI pasti tak naikkan gitu lah," kata Handaka yang juga ketua komite FJGS, kepada detikFinance, Minggu (3/6/2012).

Handaka menegaskan, seharusnya YLKI bisa melaporkan dan menunjukan langsung jika ada praktik semacam itu. Menurut Handaka, praktik menaikkan harga kemudian mendiskon, bagi peritel sangat dihindari karena akan merusak kepercayaan konsumen. Pada akhirnya merusak nama ritel yang bersangkutan.

"Tentunya (YLKI) jangan asal ngomong lah. Sepertinya ingin mendorong orang belanja di Malaysia dan Singapura, jangan asal ngomong. Ditunjukin lah," katanya.

Handaka mengakui, program diskon hingga 70% tidak untuk semua barang yang dijual. Diskon macam itu diberikan untuk barang-barang seperti fesyen yang masa trennya sudah lewat atau cuci gudang.

"Yang 70% nggak semua. Kalau barang sudah tua, 2 tahun jadi cuci gudang, kalau fesyen itu kalau sudah lama distok bisa nol nilainya, makanya dijual dikasih diskon. Lagi pula kalau barang yang sudah out of season istilah kerennya, mana ada yang mau beli," katanya.

Pada prinsipnya pergelaran Jakarta Great Sale tujuannya mengincar pasar dalam negeri yang sangat potensial. Ia khawatir daya beli masyarakat Jakarta yang tinggi dengan pendapatan kelas menengah US$ 10.000, justru berbelanja ke luar negeri seperti Singapura.

"Hampir semua merek yang dijual di Singapura, sudah ada di Indonesia, seperti Zara, dan produk bermerek lainnya," kata Handaka.

Sebelumnya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) kembali mengingatkan kepada masyarakat agar tak mudah tertipu dengan iming-iming program diskon di pusat perbelanjaan. Apalagi saat ini pesta belanja skala besar hadir seperti Festival Jakarta Great Sale (FJGS) dan The Great Singapore Sale (GSS).

"Konsumen jangan terjebak dan terbuai bahkan tertipu tawaran diskon yang tak rasional, menurut pengamatan kami kebanyakan harganya dinaikkan dahulu, baru setelah itu didiskon," kata Anggota Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi kepada detikFinance, Minggu (3/6/2012)

Tulus menegaskan dalam UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen secara tegas diatur bahwa pelaku usaha dilarang memberikan diskon dengan menaikan harga terlebih dahulu karena sudah masuk dalam ranah hukum pidana penipuan.

"Kalau di Singapura saya tak tahu, tapi kalau di Indonesia mayoritas menaikan harga dulu baru setelah itu didiskon. Misalnya kalau produknya fesyen biasanya modelnya sudah ketinggalan zaman atau tidak new comer atau barang-barang akhir. Jadi jangan melihat diskon dengan girang gemirang, karena pedagang itu nggak ada yang mau rugi," tegas Tulus.

(hen/wep)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads