Menteri Prancis 'Sentil' Obama Soal Krisis Ekonomi

Menteri Prancis 'Sentil' Obama Soal Krisis Ekonomi

Wahyu Daniel - detikFinance
Selasa, 05 Jun 2012 21:17 WIB
Menteri Prancis Sentil Obama Soal Krisis Ekonomi
Foto: Reuters
Roma - Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius tak terima komentar Presiden AS Barack Obama ancaman krisis utang di Eropa yang membuat ekonomi AS jatuh.

"Krisis tidak dimulai di Eropa...Lehman Brothers bukanlah bank asal Eropa," kata Fabius dikutip dari AFP, Selasa (5/6/2012).

Menurut Fabius, kejatuhan Lehman Brothers yang merupakan bank asal AS menjadi awal mula krisis global berlangsung secara berkepanjangan sejak 2008 lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita seharusnya tidak menyalahkan siapa yang bertanggung jawab. Kita semua berada di kapal yang sama," imbuh Fabius.

Memang pada Sabtu lalu, Obama menyatakan kondisi krisis di Eropa menyebabkan masalah pada perekonomian AS. Hal ini dinyatakan Obama setelah munculnya data peningkatan pengangguran di AS yang meningkat, dan ini bsia menurunkan pamor Obama dalam pemilu.

Fabius mengatakan, Uni Eropa harus segera mencari metode praktis guna membantu kondisi bank-bank di Spanyol yang sedang hancur. Bahkan Fabius menambahkan, Spanyol saat ini dalam kondisi ekonomi sulit.

"Kita sangat berharap ongkos utang bakal menurun, namun itu tidak terjadi. Saat ini kita sedang menghadapi situasi yang sulit," kata Fabius.

Dikatakan Fabius, Eropa harus mencari solusi agar bisa keluar dari masalah saat ini. "Ini sangat mendeak. Keputusan harus segera diambil dalam beberapa pekan ke depan," imbuh Fabius.

Seperti diketahui, risiko ekonomi yang besar di Spanyol membuat bunga pinjaman dari surat utang pemerintah Spanyol meningkat. Sehingga biaya utang yang dikeluarkan pemerintah Spanyol tinggi.

Perbankan di Spanyol membutuhkan suntikan modal atau bailout dari pemerintah untuk menyelamatkan bisnisnya. Bankia, salah satu bank besar di Spanyol meminta suntikan modal US$ 29,4 miliar kepada pemerintah untuk membersihkan neracanya dari aset-aset busuk properti yang tersisa akibat krisis di 2008 lalu.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads