Harga Minyak Mentah Semakin Dekati US$ 50 per Barel

Harga Minyak Mentah Semakin Dekati US$ 50 per Barel

- detikFinance
Jumat, 20 Agu 2004 10:49 WIB
Jakarta - Harga minyak mentah dunia semakin mendekati level US$ 50 per barel menyusul makin sengitnya pertempuran di Kota Najaf yang mengakibatkan gangguan pada sumur-sumur minyak di Irak.Harga minyak mentah di New York untuk pengantaran September melonjak US$ 1,43 ke level US$ 48,7 per barel. Bahkan pada perdagangannya sempat menyentuh level US$ 48,82 per barel. Sementara untuk harga minyak Brent di London untuk pengantaran Oktober naik US$ 1,3 menjadi US$ 44,33 per barel. "Ada kemungkinan yang kuat harga minyak menembus US$ 50 per barel pada perdagangan besok. Situasi di Irak semakin memperburuk," kata analis Phil Flynn seperti dilansir AFP, Jumat (20/8/2004).Situasi di Kota Najaf, Irak, semakin memanas setelah pejabat pemerintahan sementara Irak mengancam akan menyerang habis-habisan kompleks makan suci Imam Ali jika para pejuang Syiah pimpinan Muqtada al Sadr tidak menyerah dan menarik pasukannya.Para pialang minyak semakin cemas setelah salah satu pembantu Sadr mengatakan kepada Stasiun Televisi Al Jazeera bahwa warga Irak bagian selatan telah mengatur pembakaran pipa-pipa minyak dan mengancam untuk membakar seluruh sumur-sumur minyak disepanjang Irak."Al Sadr menolak untuk menarik pasukannya dan keluar dari Najaf, dan juga kaum militan muslim Syiah masuk ke Perusahaan Minyak di Irak bagian selatan dan mengatur pembakaran kantor-kantor tersebut. Hal ini menimbulkan kecemasan bahwa ladang-ladang minyak akan menjadi sasaran selanjutnya. Kamu pemberontak semakin berani," ujar Flynn.Ekspor minyak mentah dari terminal Irak bagian selatan telah berkurang separuhnya menjadi sekitara 40 ribu barel per jam karena ancaman pada infrastruktur dari kaum militan Muslim Syiah. Demikian disampaikan pejabat perusahaan minyak bagian selatan Irak. Sementara Fadel Gheit, analis pasar energi dari Oppenheimer mengatakan bahwa pasar sepertinya dikendalikan oleh para spekulator. "Saya kira seseorang -mungkin pelindung dana atau pialang komoditi- membuat taruhan yang sangat besar bahwa mereka akan membawa harga minyak sampai level US$ 50 per barel. Dan kemudian mereka keluar dari taruhannya yang akhirnya kita akan melihat harga minyak turun dengan tajam," ujar Gheit. "Saya tidak dapat memikirkan satu alasan logis, apa yang dapat membuat harga minyak meningkat saat ini. Dengan kenaikan sampai US$ 10 per barel minggu lalu, tidak mungkin bagi seseorang untuk mengerti," tambahnya. Gheit juga menjelaskan adanya kekhawatiran terhadap sejumlah isu yang akhirnya tidak terbukti mengancam produksi minyak seperti adanya referendum di Venezuela dan juga pemogokan di Norwegia. Demikian juga masalah di Yukos, Rusia, yang telah mendapat respon sangat berlebihan, namun pada akhirnya tidak terbukti. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads